Friday, January 24, 2020

Bunga Mei Hua

     Bunga Mei Hua adalah bunga nasional dari negara Tiongkok yang diresmikan pada tanggal 21 Juli 1964. Bunga ini melambangkan ketekunan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan, hal ini dikarenakan bunga Mei Hua tetap tumbuh dan mekar meskipun saat menghadapi musim dingin yang ekstrim. 

     Bunga Mei Hua juga dipandang sebagai simbol musim dingin dan pembawa musim semi dan juga melambangkan kecantikan, kesucian dan hal fana. 

     Pada era abad 20, bunga Mei Hua juga dilambangkan sebagai metafora dalam perjuangan revolusioner.

     Bunga Mei Hua berasal dari Tiongkok, tepatnya pada sungai Yangtze, dan selanjutnya menyebar ke Jepang, Korea, Vietnam dan Taiwan. 

     Bunga Mei Hua dapat tumbuh di berbagai tempat seperti hutan, pinggir sungai, sepanjang jalan dan pegunungan. 

     Bunga Mei Hua tumbuh pada pertengahan musim dingin, biasanya pada bulan Januari hingga Februari. Pohon bunga Mei Hua tumbuh hingga setinggi 4-10 meter dan bunganya berdiameter 2-2.5cm. 

     Bunga Mei Hua sangat dicintai di Tiongkok sejak dahulu, hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya seni dan literatur yang mengangkat tema menggunakan bunga ini. 

     Salah satu karya puisi yang terkenal adalah karya puisi "Lin Bu" dari masa dinasti Song, berjudul “Bunga Mei Hua di Taman Bukit” 

Puisi tersebut kemudian mendapat sambutan dan balasan dari berbagai penulis lainnya, seperti "Wang Jun Qing" dan "Su Dong Po" 

     Adapula legenda Putri Shouyang, dimana legenda tersebut mengisahkan Putri Shouyang yang sedang beristirahat di bawah pohon Mei Hua dekat istana Hanzhang. 

Sebuah kelopak bunga jatuh tepat di dahi putri Shouyang dan meningkatkan kecantikan sang putri. 

Para gadis di istana terkesan dengan kelopak bunga tersebut, sehingga mereka menggunakan riasan yang berbentuk seperti kelopak bunga Mei Hua. 

Riasan kelopak bunga Mei Hua ini kemudian dikenal dengan nama Meihua Zhuang. 

Selanjutnya, Putri Shouyang disebut sebagai dewi bunga Mei Hua dibudaya Tiongkok. 


Ang Pao

     Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, Ang Pao adalah bingkisan dalam amplop merah yang berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek

Laisee.jpg




     Istilah Ang Pao dalam kamus bahasa Mandarin didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah, sebagai hadiah, bonus" 

     Hong memiliki arti "merah, populer, revolusioner, bonus" 

     Bao memiliki arti "menutupi, membungkus, memegang, memasukkan, mengurusi, kemasan, pembungkus, tas, bungkusan" 

     Ang Pau umumnya muncul pada saat ada pertemuan masyarakat atau keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, hari raya Imlek, memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religi atau tempat ibadah. 

     Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi Ang Pau oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. 

     Ang Pau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Warna merah Ang Pau melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif. Oleh sebab itu, Ang Pau tidak diberikan sebagai ungkapan belasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut. 

     Para pemberi Ang Pau biasanya adalah pasangan yang sudah menikah, sementara penerimanya adalah orang yang belum menikah atau anak kecil.

     Beberapa orang memberi uang dalam bentuk koin atau berupa lembaran dalam jumlah banyak supaya penerima tidak bisa memperkirakan jumlah uang yang ia terima. Masyarakat biasanya juga melarang anak-anak untuk membuka Ang Pau pada saat masih berkumpul supaya tidak terjadi kecanggungan di antara para pemberi Ang Pao. Jumlah uang yang ada dalam Ang Pau bervariasi. 

     Untuk perhelatan yang bersifat suka cita biasanya besarnya dalam angka genap, angka ganjil untuk kematian. 

     Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, angka ganjil dihubungkan dengan pemakaman, dan angka "empat" dihubungkan dengan kata "mati" 

     Pada wilayah tertentu di China, masyarakat biasanya memberikan nominal ganjil kepada pasangan yang menikah sebagai lambang angka ganjil tidak dapat dibagi lagi. 

Dalam pernikahan, pemberi Ang Pao memperkirakan nominal yang ia berikan, apakah dapat menutupi biaya yang dikeluarkan oleh pasangan menikah untuk menjamunya. Selain itu, nominal yang digunakan terkadang juga menunjukkan ungkapan selamat si pemberi kepada pasangan menikah, misalnya $288 (2 melambangkan pasangan dan 88 melambangkan shuangxi atau kebahagiaan berganda) dan $388 (3 melambangkan pasangan segera dianugerahi keturunan) Karena angka 8 melambangkan kekayaan, biasanya orang berusaha memberi uang dalam Ang Pao dengan nominal 8. 


     Pada masa Dinasti Qin, orang-orang tua biasa mengikat uang koin dengan benang merah. Uang itu disebut "yasui qianyang berarti "uang pengusir roh jahat" dipercaya dapat melindungi orang-orang tua dari penyakit dan kematian. 

     Yasui Qian kemudian digantikan amplop merah semenjak bangsa China menemukan metode printing. 

     Masyarakat Vietnam menyebut angpau sebagai "li xi" atau "phong bao mung tuoi (amplop tahun baru) 

     Masyarakat Thailand menyebutnya "ang pow" atau "tae ea" 

     Myanmar menyebutnya "an-pao"  

Di Filipina disebut "ang paw" atau "ampaw" 

Beberapa penduduk pribumi Filipina telah mengadopsi kebudayaan tersebut untuk ulang tahun, dan memberi pada saat perayaan Natal

     Masyarakat Korea Selatan menggunakan amplop putih yang disebut "sae bae don" 

     Di Jepang, pemberian uang yang disebut "otoshidama" diberikan kepada anak-anak oleh seluruh kerabatnya pada saat perayaan tahun baru Jepang. Namun, amplop yang digunakan berwarna putih dan ditulisi nama orang yang menerima. Mirip seperti "Shugi-bukuro" digunakan dalam pesta pernikahan, tetapi amplopnya dilipat bukan di lem serta dihiasi oleh pita. 

     Di Malaysia, tradisi ini kurang populer di wilayah Semenanjung Malaysia, tetapi sangat populer di Sabah. Warga Tionghoa di Sabah, memberi ang pao kepada cucu, rekan karib, murid dan tetangga mereka, atau digunakan untuk mengemas dana yang dimasukkan ke dalam kotak-kotak dana di klenteng

Warga muslim di MalaysiaBrunei, dan Singapura, telah mengadopsi kebudayaan ini sebagai bagian dari Idul Fitri ataupun pernikahan. 

Namun mereka tidak menggunakan ang pau berwarna merah, melainkan amplop dengan warna hijau. Warna hijau merupakan warna tradisional yang digunakan oleh Islam, dan adaptasi tersebut didasarkan pada tradisi sodaqoh. Sodaqoh bersifat tidak formal dibandingkan zakat, dan dalam berbagai kebudayaan lebih mendekati pemberian di antara teman, dibandingkan beramal yang lebih ditetapkan untuk orang yang membutuhkan

Dewi Kwan im

Kwan Im adalah translasi dari Avalokitesvara Bodhisattva, merupakan Bodhisatva Welas Asih. 
Kwan Im sendiri adalah dialek Hokkian yang digunakan masyarakat Tionghoa di Indonesia

Nama lengkap dari Kwan Im adalah "Kwan She Im Phosat" (Guan Shi Yin Pu Sa) yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam bahasa SanskertaAvalokitesvara

Guanyin Pusa bersama dengan Shancai dilukiskan dalam lukisan tradisional China 
Kwan im bersama dengan Shancai yang dilukiskan dalam lukisan tradisional China


Dalam bahasa Jepang, Kwan Im disebut "Kannon" 
Dalam bahasa Korea disebut Gwan-eum atau Gwanse-eum. 
Dalam bahasa Vietnam "Quan Am" atau "Quan The Am Bo Tat" 


Di India, Avalokitesvara
 sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki, begitu pula pada masa Dinasti Tang (618-907

Namun pada Dinasti Song (960-1279) berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita, yang kemudian digambarkan dalam para seniman. 

Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita, lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368

Sejak masa Dinasti Ming, pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita. 

     Kwan Im pertama diperkenalkan ke China pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya agama Budha

     Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea dan Jepang, karena pengaruh Dinasti Tang

Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama "Chenrezig" 

Dalai Lama sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.

Istiilah Avalokitesvara, diterjemahkan oleh Kumarajiva, menjadi Guanshiyin. Kemudian di singkat menjadi Guanyin, karena kata shi sama dengan kata shi dari nama Li Shimin (598-649) atau kaisar Tang Taizong. Persamaan ini tabu bagi kaisar. 

Pengertian Avalokitesvara Bodhisattva dalam bahasa Sanskerta adalah : 

  • "Avalokita" (Kwan/Guan/Kwan Si/Guan Shi) yang bermakna "Melihat ke Bawah" atau "Mendengarkan ke Bawah" “Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (Sanskerta : lokita
  • Kata "Isvara" (Im/Yin) berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami) 

Kwan Im sebagai seorang Bodhisattva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. 

     Di negara JepangKwan Im terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudannya sebagai pria, Kwan Im disebut Kwan Sie Im Pho Sat

     Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu/Ta Pei Cou/Ta Pei Shen Cou) ada 84 perwujudan Kwan Im, sebagai simbol dari Bodhisattva yang mempunyai kekuasaan besar. 

     Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im dengan perwujudan sebagai “Buddha Wairocana” dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 perwujudan lainnya. 

     Perwujudan Kwan Im di altar utama Kim Tek Ie, salah satu Klenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia) 

Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Seribu Lengan/Tangan, sebagai perwujudan Kwan Im yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya. 

Kano Motonobu (Kannon berjubah putih, Bodhisattva Welas Asih) abad 16 Jepang 

Ketika agama Budha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han) mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. 

Seiring dengan berjalannya waktu. Menjelang Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita. 

Ada beberapa teori mengenai perubahan ini.

Pertama pengaruh budaya maternalistik Tiongkok purba.

Kedua dipengaruhi oleh figur Wu Zetian (624-705) kaisar wanita yang beragama Budha.

Ketiga tekanan budaya paternalistik sehingga kaum perempuan memerlukan satu figur dewi perempuan yang bisa melindungi dan mengayomi mereka.

     Rakyat jelata Tiongkok atau yang mayoritas memeluk kepercayaan rakyat (Chinese folk religion) sering menyebut dengan sebutan niang-niang atau ma. 

Taoisme kemudian menyebut Guanyin adalah Cihang Dashi atau Cihang Zhenren. 

Salah satu sumber tentang ini adalah Lidai Shenxian Tongjian (Catatan saksama dewa-dewi dalam sejarah) atau yang dikenal dengan nama lain Sanjiao Tongyuanlu (Catatan tiga ajaran/agama bersumber yang sama) 

Buku itu ditulis oleh Xu Dao dan Cheng Yuqi, pada akhir dinasti Ming (1368-1644) dan awal dinasti Qing (1644-1912) 

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India, dan figur perempuan Guanyin Pusa, adalah figur yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat Tiongkok saat itu. 

Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung PotalakaTibet

Sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di Pulau Putuo Shan, Kepulauan Zhou ShanChina


     Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal usul Dewi Kwan Im. 

Dalam kitab Hong Sin Yan Gi/Hong Sin Phang/Fengshenbang atau disebut juga Fengshen Yanyi (Roman penganugrahan dewa) disebutkan bahwa sebelum ia dikenal sebagai Dewi Kwan Im, ia dikenal dengan nama Chu Hang/Cihang . 

Ia merupakan salah satu dari 12 murid Yuanshi Tian. Buku tersebut ditulis oleh Xu Zhonglin (1560-1630) pada masa dinasti Ming. 

     Kisah Putri Miao Shan sebagai Guanyin menarik minat masyarakat. 

Xiangshan Baojuan (Gulungan Mustika Gunung Harum) menceritakan Guanyin Pusa, bermanifestasi menjadi Putri Miao Shan, putri ke tiga dari Raja Miao Zhuang. Cerita Xiangshan Baojuan bermuasal dari vihara Xiangshan si, di Ruzhou. 

Vihara itu adalah tempat pemujaan Guanyin, dan biksu kepala vihara bernama Huaizou memberikan tulisan kisah Putri Miao Shan pada pejabat kota Ruzhou (1031-1104) pada masa dinasti Song (960-1127) 

Dari situlah legenda Guanyin sebagi putri Miaoshan meluas. 

Jika melihat isi kisah Putri Miao Shan, terasa nuansa kepercayaan yang amat kental dan juga unsur Buddhisme, Taoisme dan Ruisme (Confuciusme) 

Isi cerita Miao Shan menjadi Kwan Im yang umum sebagai berikut : 

Dewi Kwan Im dilahirkan pada masa dinasti Zhou Timur (770-256) pada periode "peperangan antar negara" (403-221) Menurut legenda, Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang/Biao Cong/Biao Cuang, penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim) kira-kira pada akhir Dinasti Zhou pada abad III SM. 

Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya hanyalah tiga orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan) yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan)

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil. 

Yang kedua memilih seorang jendral perang, sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Biksuni di Klenteng Bai Que Si (Tay Hiang Shan) 

Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendiriannya. 

Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Setelah kematiannya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. 

Karena melihat penderitaan mahluk-mahluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.

Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarnya. 

Begitu bangkit dari kematiannya, Buddha Amitabha, muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ketuaan dan kematian. 

Buddha Amitabha, lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi

Sembilan tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. 

Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat.

Dengan kesaktiannya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahnya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa baktinya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. 

Pada saat akan menolong ayahnya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahnya diserbu setan-setan kelaparan. 

Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan.

Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bakti ketiga putrinya sangat luar biasa. 

Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan dan pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha. 

Rakyat yang mendengar bakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tangannya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.

Budha Amitabha yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahnya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. 

     Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Kwan Im menggunakan kesaktiannya untuk melawan mereka. Ia berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis.

Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, di antaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Buddha Amitabha yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan "Seribu Tangan dan Seribu Mata" sehingga Kwan Im dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia. 

Khusus untuk Shan Cai ada 2 versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Budha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik. 

Versi lain dalam cerita Se Yu Ki menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong dengan Lo Sat Li. Nama aslinya adalah Ang Hay Jie atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong meminta bantuan kepada Kwan Im untuk mengatasinya.

Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im dan diangkat menjadi muridnya dengan panggilan Shan Cai. 

Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah satu pengawal Kwan Im adalah Lie Lo Cia, yang penampilannya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan di antara keduanya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakinya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong. 

Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 rupa perwujudan Kwan Im, antara lain : 

  1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera
  2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri di atas Naga
  3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu
  4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri
  5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak
  6. Kwan Im Berdiri di atas Batu Karang/Gelombang Samudera
  7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu
  8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua

Selain perwujudan Kwan Im yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan. 

Selain itu, Kwan Im sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat – Amitabha – Kwan Im Pho Sat.

20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im 

  1. Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.
  2. Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.
  3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
  4. Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok. 
  5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
  6. Setiapkali ada orang memberimu satu kebaikan, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.
  7. Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.
  8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
  9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
  10. Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasihat.
  11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.
  12. Jangan selalu melihat/mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.
  13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.
  14. Kalau wajahmu senyum, hatimu senang, pasti kamu akan aku terima.
  15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa. 
  16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
  17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
  18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
  19. Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dgn kata-kata yang lemah lembut hingga orang itu insaf.
  20. Doa mu akan diterima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalanku. 

Ketika Hujan turun menjelang Hari Raya Imlek

      Hujan yang turun seharian jelang Imlek termasuk dalam mitos yang dipercaya bagi masyarakat Tionghoa. Turunnya hujan saat Imlek, justru dianggap membawa berkah karena banyak turun rezeki. 

      Setiap perayaan Imlek atau pergantian Tahun Baru China identik dengan turunnya hujan. Hujan dipercaya akan membawa keberuntungan. 

      Masyarakat Tionghoa mengamini mitos tersebut, meski sebagian orang justru menghawatirkan hujan bisa menggagalkan serangkaian acara Imlek atau malah memicu bencana banjir. 

      Ada yang menganggap turunnya hujan saat Imlek karena memang bertepatan pada bulan Januari hingga Februari. 
Di bulan-bulan tersebut, hujan dengan beragam jenis intensitas melanda sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini terjadi hampir setiap tahunnya, sehingga saat Imlek dipastikan hujan akan turun. 

       Sementara itu kalau menilik sejarahnya, Hari Raya Imlek dijadikan momen bersyukur masyarakat Tionghoa dengan datangnya musim semi. Hasil panen akan melimpah ketika musim semi datang. 
Maka dari itu, mereka percaya dengan hujan yang turun jelang musim semi akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan ke depan. 
Kepercayaan ini pun menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. 

       Para ahli Fengshui juga mengatakan, hujan merupakan simbol keberuntungan bagi kehidupan masyarakat Tionghoa. 
Berkah turun dari langit, karena Dewi Kwan Im, sedang menyiram bunga Mei Hua. 

       Intensitas curah hujan pun dijadikan tolak ukur keberuntungan seseorang. 
Semakin deras curah hujan, semakin banyak rezeki yang akan didapat, begitu pula sebaliknya. 

       Terlepas dari semuanya, mitos soal hujan saat Imlek membawa keberuntungan, tergantung pada sudut pandang masing-masing orang. 

Kumpulan Sajak

Melayu : 

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik terkenang jua 

             Ayam hutan terbang ke hutan
             Tali tersangkut pagar berduri
             Adik bukan saudara bukan
             Hati tersangkut karena budi

Ayam rintik di pinggir hutan
Nampak dari tepi telaga
Nama yang baik jadi ingatan
Seribu tahun terkenang juga

          Bila memandang ke muka laut
          Nampak sampan mudik ke hulu
          Bila terkenang mulut menyebut
          Budi yang baik ingat selalu

Burung Serindit terbang melayang
Mari hinggap di ranting mati
Bukan ringgit dipandang orang
Budi bahasa rangkaian hati 

           Baik-baik mengail tenggiri
           Takut terkena si ikan parang
           Baik-baik merendah diri
          Jangan menjadi hamba orang 

burung serindit terbang melayang
singgah dihinggap di ranting mati
duit ringgit dipandang orang
jarang dipandang bahasa budi 

             Puas saya bertanam ubi
             Nanas jugak dipandang orang
             Puas saya menabur budi
             Emas juga dipandang orang 

Tinggi-tinggi pohon jati
Tempat bermain simanja sayang
Sungguh tinggi harga budi
Budi dibalas kasih dan sayang 

            Akar keladi melilit selasih
            Selasih tumbuh di hujung taman
            Kalungan budi junjungan kasih
            Mesra kenangan sepanjang zaman

Anak beruk di tepi pantai
Pandai melompat pandai berlari
Biar buruk kain dipakai
Asal hidup pandai berbudi 

              Pisang Emas bawa belayar
              masak sebiji di atas peti
              Hutan emas boleh ku bayar
              Hutang budi ku bawa mati 


Wednesday, January 22, 2020

sejarah opium

Opiumapiun, atau candu (slang : poppy) adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang.

Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dengan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.

Istilah untuk candu yang telah dimasak dan siap untuk dihisap adalah madat. Istilah ini banyak digunakan di kalangan para penggunanya bukan hanya sebagai kata nomina tetapi juga kata kerja.

Buah opium yang dilukai dengan pisau sadap akan mengeluarkan getah kental berwarna putih. 

Setelah kering dan berubah warna menjadi cokelat, getah ini dipungut dan dipasarkan sebagai opium mentah.

Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. 

Kalau getah ini diekstrak lagi, akan dihasilkan morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin.

Tanaman opium yang berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara ini sekarang telah menyebar sampai ke Afganistan dan "segitiga emas" perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos.

Menurut PBB, Afganistan saat ini merupakan penghasil opium terbesar di dunia dengan 87%. 

Laos juga merupakan salah satu penghasil terbesar.

Di Indonesia, bunga poppy yang tidak menghasilkan narkotik banyak ditanam di kawasan pegunungan seperti Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen.

Sejarah madat dan candu di Jawa

Madat dan candu di Jawa tahun 1888

Candu sudah dikenal oleh orang Jawa sejak berabad-abad lalu, setidaknya pada abad 17 ketika Pemerintah Kolonial Belanda menjadikan candu sebagai komoditas perdagangan yang penting untuk dimonopoli serta menjadi objek pajak.

Satu dari 20 orang Jawa mengisap candu, tulis pakar candu, Henri Louis Charles Te Mechelen, tahun 1882, seperti yang tercantum dalam buku "Opium To Java" karya James R.Rush. 

Kebiasaan mengisap candu bukan hanya terjadi di tanah Jawa, tetapi juga di sejumlah wilayah koloni Eropa di Asia, tulis TeMechelen, yang waktu itu menjabat sebagai Inspektur Kepala Regi Opium dan Asisten Residen Yuwana di wilayah Jawa Tengah.

Opium tidak tumbuh di Jawa, melainkan didatangkan dari daerah lain, diduga dari Turki dan Persia. 

Dalam buku "Opium To Java" saudagar Arab disebutkan membawa masuk candu ke wilayah ini, meskipun tidak ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan sejak kapan candu mulai diperdagangkan di Jawa.

Candu merupakan komoditas penting yang pada awalnya diperebutkan bersama oleh Inggris, Denmark dan Belanda, tetapi kemudian Belanda yang memenangkan monopoli perdagangannya, sedangkan pelaksananya adalah para elit China di Jawa.

Belanda melalui VOC pada 1677, mendapatkan perjanjian dengan raja Jawa ketika itu, Amangkurat II, untuk memasukkan candu ke Mataram dan memonopoli perdagangan candu di seluruh negeri. Perjanjian serupa juga disusul di Cirebon setahun kemudian. 

Sejak tahun 1619-1799, VOC bisa memasukkan 56.000 kg opium mentah setiap tahun ke Jawa. 

Dan pada 1820 tercatat ada 372 pemegang lisensi untuk menjual opium.

Penikmat candu tersebar di berbagai kalangan dan meluas di Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Pada papan atas, candu dikonsumsi sebagai gaya hidup, disuguhkan sebagai tanda kehormatan bagi tetamu di rumah para bangsawan Jawa dan China. 

Mereka adalah kaum pengembara, musisi, seniman teater rakyat, pedagang keliling dan tukang-tukang upahan di perkebunan yang memakai candu untuk menikmati sensasi hayal, merajut mimpi dan mengurangi pegal-pegal di badan.

Namun di Banten dan tanah Pasundan, jumlah pecandu tidak besar. 

Budaya, moral dan agama Islam yang kuat di kalangan masyarakat, telah menjadi benteng yang memagari opium di wilayah tersebut.

Sempat ada larangan resmi memperdagangkan opium di wilayah tersebut, dan Banten menutup perdagangan opium pada awal abad 19, meskipun demikian pasar gelap candu dapat ditemukan.

James R.Rush, juga menulis terjadi penyelundupan opium di Priangan pada waktu itu dan kemudian Belanda berhasil membuka perdagangan di wilayah tersebut, jumlah pemakainya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan wilayah Surakarta, Yogyakarta, Kediri, Madiun, Rembang, Kedu, Pasuruan, Probolinggo bahkan juga di eks karesidenan Besuki jauh di timur.

Seorang dokter Inggris, Thomas Syndenham, pada 1680 menulis "Di antara semua obat-obatan yang disediakan bagi manusia atas perkenan Tuhan, tidak ada yang semanjur dan seuniversal opium untuk meringankan penderitaan"

Secara klinis, morfin, sampai sekarang adalah obat paling unggul untuk menghilangkan rasa sakit dan dipergunakan sebagai pengobatan resmi, meskipun penyalahgunaannya juga meluas di seluruh pelosok dunia.

Karakter analgesik opium yang dapat meredakan rasa sakit tidak diragukan, menyebabkan benda itu disukai orang Jawa, terutama mengingat fasilitas layanan kesehatan yang tidak memadai, lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat sehingga banyak penyakit merebak di antara penduduk seperti diare, malaria, tipus, campak, demam.

Dalam suatu survei di kalangan pemakai pada 1890, banyak yang mengaku pada awalnya mereka mencoba opium untuk meringankan penderitaan atas keluhan sakit kepala, disentri, asma, demam biasa, malaria, tuberkolosis , menghilangkan letih-lesu bahkan mengobati penyakit kelamin.

Di kalangan para seniman yang harus begadang karena pekerjaan, misalnya sinden dan dalang, penari, pemain teater, candu diyakini dapat membuat mereka kuat terjaga dan tetap bugar.

Sempat ada anggapan bahwa candu dapat meningkatkan vitalitas, gairah seksual dan eforia, sampai-sampai tertulis dalam syair Jawa, Suluk Gatoloco. 

tokoh dalam syair itu Gatoloco, berwujud kelamin laki-laki yang membentengi diri dengan menelan opium dan merasakan kekuatan candu yang memabukkan itu menyebar ke seluruh tubuh dan membuat seluruh kekuatannya kembali.

Pemakaian candu semakin meluas, dampak negatif juga terlihat dari pemakaian uang yang cukup besar untuk belanja candu. 

Tetapi, pandangan orang Jawa terhadap candu tidaklah seragam. Pada masa itu pun sudah ada kelompok anti candu yang berjuang untuk memeranginya dengan memasukkannya pada larangan "molimo" yaitu ajaran moral yang melarang kaum laki-laki berbuat lima kegiatan yang berawalan dengan kata M, yaitu Maling (mencuri), Madon (main perempuan), Minum (alkohol), Main (berjudi) dan Madat (mengisap candu).

Penguasa Surakarta, Raja Paku Buwono IV, yang memerintah pada 1788-1820, menuliskan ajaran moral yang benar dalam syair panjang "Wulang Reh" (ajaran berperilaku benar)

Ia menggambarkan pemadat sebagai pemalas dan orang yang bersikap masa bodo yang hanya gemar tidur di bale untuk mengisap candu "Jauhi madat, madat tidak baik untukmu" 

Pujangga Ronggowarsito, menilai peringatan Paku Buwono IV, tentang opium dapat dibaca sebagai komentar terhadap merosotnya nilai-nilai moral kerajaan di Jawa yang membantu mempercepat perpecahan politik dan perbudakan yang dilakukan Belanda terhadap pihak kerajaan.

Peringatan bagi kalangan tinggi di kerajaan akan bahaya opium telah dinyatakan secara berkala dalam dokumen-dokumen sastra. Paku Buwono II, malahan menyerukan larangan mengisap opium bagi seluruh keturunannya.

Di pihak Belanda, juga tumbuh gerakan etis sejak 1880, yang dilakukan untuk meningkatkan kemakmuran warga. 

Pieter Brooshooft, mengeluarkan Memorie yang menyerukan pengurangan pajak pada orang pribumi dan proyek-proyek yang dapat memajukan pertanian rakyat.

Pada 1899, C.Th Deventer, membujuk pemerintah Belanda untuk membayar utang kehormatan sebagai ganti rugi atas sikap mengabaikan penduduk di wilayah jajahan, disusul dengan pernyataan resmi Ratu Wilhelmina pada 1901, yang menyatakan penyesalan atas hilangnya kesejahteraan penduduk Jawa.

Tahun-tahun etis ini ditandai dengan perluasan kesempatan pendidikan bagi penduduk dan upaya perbaikan kesejahteraan lainnya termasuk peraturan mengenai peredaran candu.

Belanda membentuk suatu lembaga khusus yang diberi nama Regi, untuk meluruskan kesalahan pada masa lalu. 

Sejak itu, semua urusan opium dipusatkan di ibu kota, juga pabrik-pabrik opium yang dulu tersebar di daerah dan dikuasai para bandar yang menghasilkan produksi dengan variasi luas, baik dari kualitas dan citarasa, dipusatkan di Batavia dalam bentuk produksi yang seragam.

Birokrasi dalam pembuatan dan peredaran mulai diterapkan untuk mengantisipasi penyalahgunaannya dan banyak orang terpelajar bergabung dalam Regi hingga di tingkat daerah.

Alberthien Endah, seorang wartawan masa kini menulis buku berjudul "Jangan Beri Aku Narkoba" sebuah karya fiksi untuk mengingatkan generasi masa kini tentang ancaman narkoba.

Dalam pengantarnya, Alberthien Endah, mempersembahkan buku itu bagi semua anak muda yang menyatakan "Narkoba No Way" 

Sebab narkoba takkan memberimu apa-apa atau membuatmu menjadi siapa-siapa, bahkan akan membuatmu kenapa-kenapa di dunia yang memberi begini banyak kesempatan. 

Buku tersebut mengangkat kisah sosial yang sebenarnya klasik dalam cerita-cerita fiksi, keluarga mapan yang kehilangan makna hidup sebagai keluarga dan anak-anak yang terjerumus pada narkoba, sebagai pelarian dan menunjukkan kegagalan orang tua serta lembaga pemberantas narkoba dalam menyelesaikan persoalan narkoba. 

Tuesday, January 21, 2020

Pieter Erbelverd dan Kampung Pecah Kulit


Tugu peringatan Pieter Erberveld tahun 1885
tugu peringatan Pieter Erberveld (1888-1889)

Pieter Erberveld adalah seorang tokoh yang tercatat pernah dihukum mati oleh VOC pada tahun 1721 karena dianggap memimpin konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan menentang kekuasaaan VOC.

Erberveld adalah orang Indo Jerman-Siam, namun kemudian bekerja di Batavia. Nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari Elberfeld, yang sekarang menjadi bagian dari kota WuppertalJerman

Ayahnya datang ke Batavia sebagai penyamak kulit. 

Setelah ia diangkat sebagai anggota Heemraad untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol, ia menjadi tuan tanah. Kekayaan ini diwariskan kepada anaknya.

Menurut versi VOC, Elberfeld bersekongkol dengan beberapa pejabat Banten di Batavia untuk membunuhi orang Belanda pada suatu perayaan pesta. 

VOC juga menuduh ia bersekongkol dengan keturunan Surapati di Jawa bagian timur. Tidak diketahui motivasi Elberfeld sesungguhnya, apakah ia memang ingin membantu orang Banten (dipimpin Raden Kartadriya) menguasai kembali Batavia, atau ia memiliki rencana sendiri, apabila Belanda enyah dari sana, karena ia sakit hati atas perlakuan Gubernur Jenderal Johan van Hoorn yang telah menyita tanahnya.

Rencana pembunuhan ini bocor karena ada budak yang melapor ke VOC. 

Versi lain mengatakan, kalau Sultan Banten-lah yang membocorkan karena ia khawatir akan pengaruh Elberfeld dan Kartadriya yang akan merongrong kekuasaannya.

Godee Molsbergen, yang menulis tentang peristiwa itu, melihat banyak kejanggalan pada tuduhan yang dialamatkan VOC terhadap Elberfeld.

Ia dihukum mati bersama dengan Kartadriya dan 17 orang penduduk asli lainnya di halaman selatan Benteng Batavia, bukan di halaman Balai Kota. 

Pelaksanaan hukuman mati itu digambarkan sangat sadis, dilakukan dengan menarik kedua tangan dan kaki, masing-masing diikat pada seekor kuda. 

Akibatnya, tubuhnya terpotong-potong. 

Hal ini dilakukan VOC untuk memberikan efek jera kepada penduduk agar tidak lagi mencoba-coba melakukan perlawanan pada mereka.

Tubuh Elberfeld dimakamkan di suatu sudut di Jalan Pangeran Jayakarta, dan kemudian didirikan suatu tugu peringatan. 

Di tugu itu dipajang tengkorak Elberfeld yang ditusuk tombak dan di bawahnya terdapat prasasti. 

Saat kedatangan Jepang 1942, tugu itu dihancurkan, namun prasastinya dapat diselamatkan. 

Replikanya kemudian didirikan kembali. 

Sejak tahun 1985 tugu itu kemudian dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta, karena tempat tugu itu berdiri dijadikan showroom mobil. 

Kampung tempat makam ini sekarang dinamakan Kampung Pecah Kulit. 

konon karena kulit Elberfeld terkelupas akibat hukuman itu.