Wednesday, March 4, 2020

Keris Taming Sari

Menurut cerita, kejadian ini berlaku pada zaman kesultanan Malaka di bawah pemerintahan Sultan Muzafar Shah. Sultan tersebut hendak menikahi anak perempuan raja Majapahit. Angkatan Malaka telah berkunjung ke Majapahit bersama dengan para pembesar dan hulubalang Malaka yang terdiri dari Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu, Hang Kesturi dan Hang Lekir.

Ketika sambutan kepada Sultan tersebut, Taming sari meminta kepada raja Majapahit untuk menantang hulubalang Melaka bermain keris. Tantangan tersebut di terima oleh Hang Tuah dan berlakulah babak permainan dan bertikam keris. Kedua pendekar tampak sama hebat dan gagah, namun pada satu ketika, Hang Tuah menikam Taming Sari dengan kerisnya, tetapi Taming Sari kebal. Hang Tuah merasakan kekebalan Taming Sari disebabkan kesaktian yang ada pada kerisnya, lalu Hang Tuah berusaha merampas keris itu. Ketika di dalam pertempuran itu, Hang Tuah menjatuhkan Taming Sari dan membuat keris Taming Sari terlempar, lalu ia merampasnya. Namun adalah pantang membunuh musuh yang tidak bersenjata, lalu diberikan keris dia kepada Taming Sari dan Hang Tuah berhasil menikam Taming Sari hingga rewas. Kemudian keris itu dihadiahkan kepada Hang Tuah oleh raja Majapahit. 


Keris Pangeran Diponegoro

AKHIRNYA KERIS PANGERAN DIPONEGORO AKAN KEMBALI KE PERTIWI

Hilang ratusan tahun, Keris Pangeran Diponegoro ditemukan di Belanda.
Salah satu keris pusaka terpenting Pangeran Diponegoro, ditemukan melalui penelitian yang panjang. 

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Rabu 4 Maret, pukul 09:00 pagi waktu Belanda, mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia. Dalam rilis yang diterima Historia, keris yang dimaksud merupakan pusaka milik Pangeran Diponegoro.

Keris berwarna hitam dengan ukiran berlapis emas itu sempat dikabarkan hilang. Keris tersebut berhasil diidentifikasi setelah dilakukan penelitian terhadap koleksi Museum Volkenkunde, Leiden.

“Saya bahagia bahwa penelitian mendalam ini yang diperkuat ahli Belanda dan Indonesia, menjelaskan bahwa ini adalah keris yang dicari-cari selama ini. Sekarang keris ini dikembalikan ke negeri asalnya, Indonesia” ujar Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Inggrid van Engelshoven.

Keris itu telah diserahkan Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Indonesia, I Gusti Agung Wesaka Puja, di Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Den Haag, Belanda, 3 Maret, pukul 10 pagi waktu setempat. 

Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, yang tergabung dalam tim ahli dari Indonesia, memastikan bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, keris itu dihadiahkan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Raja Willem I, pada 1831. Keris itu kemudian disimpan di Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) atau koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda.

Setelah KKZ bubar, koleksinya tersebar ke sejumlah museum. Namun banyak informasi mengenai koleksi ikut hilang. Termasuk keris Pangeran Diponegoro yang diserahkan kepada Museum Volkenkunde di Leiden.
Padahal sebelum dipindahkan ke Museum Volkenkunde, keris ini pernah dipamerkan di Philadelphia, Amerika Serikat, pada 1876. 
Hal ini tercatat dalam katalog pameran yang menyebutkan keris tersebut milik Pangeran Diponegoro.

“Kerisnya ada tapi catatannya hilang. Jadi bukan kerisnya yang hilang” ujar Margana kepada Historia. 

Penyerahan keris Pangeran Diponegoro kali ini merupakan bagian dari perjanjian antara Indonesia dan Belanda pada 1975 mengenai pengembalian warisan budaya yang berkaitan dengan tokoh bersejarah.
Buah perjanjian tersebut adalah pengembalian benda bersejarah Indonesia pada 1978. Benda-benda yang dikembalikan waktu itu antara lain arca Prajnaparamita dan 237 benda berharga dari Puri Cakaranegara, Lombok, hasil jarahan pada Perang Lombok 1894.

Terkait Pangeran Diponegoro, dikembalikan tiga benda yang pernah digunakan Pangeran Diponegoro, yakni payung kehormatan, tombak dan pelana kuda. 
Selain itu, pada saat bersamaan, Yayasan Granje-Nassau menghadiahkan lukisan karya Raden Saleh tentang penangkapan Pangeran Diponegoro.

Pengembalian benda bersejarah Indonesia terjadi lagi 37 tahun setelah itu, yakni pada 2017. 
Bersamaan dengan pembukaan pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini" di Galeri Nasional, sebuah tongkat milik Pangeran Diponegoro dikembalikan.

Tongkat bernama Kanjeng Kyai Cokro itu disimpan selama 181 tahun oleh keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1833-1834, Jean Chretien Baud.

Kini benda-benda bersejarah Pangeran Diponegoro disimpan di Museum Nasional di Jakarta. Akan menyusul pula keris Pangeran Diponegoro ini. 

Golok Betok

Komentar

Keragaman etnis dan budaya menjadi ciri khas dan kekayaan tersendiri bangsa Indonesia, dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Uniknya, setiap etnis di Indonesia memiliki senjata khas yang menjadi simbol kebesaran dari sejumlah etnis tersebut. Etnis Jawa misalnya, memiliki keris sebagai senjata kebesaran mereka, etnis Sunda terkenal dengan kujangnya, etnis Madura terkenal dengan celuritnya dan etnis Betawi yang masyhur dengan Golok Betoknya yang berumur 800 tahun.

Sebagai sebuah senjata pusaka, keberadaan Golok Betok merupakan fase awal asal muasal senjata dalam sejarah nusantara. Bahkan, sebelum senjata khas Jawa Barat kujang ada, Golok Betok sudah ada konsepnya terlebih dahulu. Namun, karena Kerajaan Pajajaran memohon kepada Sang Empu agar dibuatkan secepatnya sebuah senjata bernama kujang, pembuatan Golok Betok menjadi tertunda.

“Saat ini, keberadaan Golok Betok yang dulunya biasa digunakan para jagoan dari Betawi sudah hampir punah” cerita Aziz Munandar, ahli pengobatan tradisional yang juga salah seorang kolektor benda berharga.

Di tangannya, senjata pusaka berusia 800 tahun itu terlihat masih terawat dengan baik dan tidak sembarang orang bisa melihatnya dari dekat. Karena keberadaannya yang mulai langka, Azis menjamin hanya segelintir orang saja yang masih memilikinya. Kalau pun ada di tangan orang awam, bisa jadi Golok Betok itu adalah golok imitasi yang tidak memiliki sejarah panjang sebagaimana Golok Betok miliknya.

Dilihat dari bentuknya, Golok Betok tak ubahnya seperti senjata golok lain. Hanya saja senjata ini terlihat lebih gemuk dibanding golok pada umumnya dan bentuknya sedikit bantet.  Sedangkan mata pisau Golok Betok terbuat dari baja hitam dengan gagang kayu hitam. Dahulu, Golok Betok biasa digunakan sebagai pendamping golok jawara dalam kesehariannya.

Menurut Azis, Golok Betok dibuat lebih awal dari pisau raus, gaman ataupun keris. Azis meyakinkan jika Golok Betok yang menjadi koleksi miliknya itu adalah asli. Bentuk badan dan mata pisau yang terbuat dari baja hitam dengan gagang kayu hitam atau gading menandakan keaslian senjata pusaka khas Betawi tersebut. 

Monday, March 2, 2020

Virus CORONA

Wabah penyakit koronavirus 2019-2020 atau dikenal sebagai wabah COVID-19 adalah peristiwa wabah penyakit. 

Penyakit ini disebabkan oleh virus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. 

COVID-19 pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada bulan Desember 2019. 

Setelah beberapa orang mengalami pneumonia tanpa sebab yang jelas. Prosedur perawatan dan vaksin yang diberikan ternyata tidak efektif. 

Kemunculan penyakit ini diduga berhubungan dengan pasar grosir makanan laut Huanan yang menjual hewan hidup. 

COVID-19-outbreak-timeline.gif






Per 2 Maret 2020, 3061 orang tewas, 2912 terjadi di daratan Tiongkok, sedangkan lebih dari 100 kasus kematian terjadi di negara lain, dan ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia. Kasus ini juga telah dilaporkan di lebih dari 60 negara lainnya. 

Di Tiongkok dan di seluruh dunia, otoritas kesehatan masyarakat, berupaya menahan penyebaran penyakit ini. 

Pemerintah Tiongkok telah membatasi perjalanan, mengarantina dan membatasi orang-orang untuk keluar dari rumah. Sejumlah negara telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke Wuhan, Hubei dan Tiongkok pada umumnya. 

Wisatawan yang telah mengunjungi Tiongkok Daratan telah diminta untuk memantau kesehatan mereka, setidaknya selama dua pekan. 

Siapa pun yang menduga bahwa mereka telah terinfeksi, disarankan untuk memakai masker pelindung dan mencari nasihat medis dengan memanggil dokter dan tidak langsung mengunjungi klinik kesehatan. Bandar udara dan stasiun kereta api menerapkan pemeriksaan suhu tubuh, pernyataan kesehatan dan plakat informasi untuk mengidentifikasi pembawa virus. Banyak acara dan tempat-tempat wisata ditutup untuk mencegah orang-orang berkumpul secara massal, termasuk Kota Terlarang di Beijing dan pameran kuil tradisional. 

Pihak berwenang di 24 dari 31 provinsi, kota dan wilayah Tiongkok, memperpanjang liburan tahun baru hingga 10 Februari dan memerintahkan sebagian besar tempat kerja agar tidak buka sampai tanggal tersebut. 

Hongkong menaikkan tingkat respons penyakit menularnya ke level tertinggi dan menyatakan keadaan darurat, menutup sekolah hingga bulan Maret dan membatalkan perayaan tahun baru. 

Wabah ini telah dinyatakan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020. 

Pernyataan ini adalah deklarasi keenam yang dilakukan oleh WHO sejak pandemi flu 2009. 

Pada bulan Desember 2019, terjadi sekelompok kasus pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya yang dihubungkan dengan pasar grosir makanan laut Huanan. Pasar ini memiliki ribuan kios yang menjual berbagai hewan seperti ikan, ayam, burung pegar, kelelawar, marmut, ular, rusa dan binatang liar lainnya. Setelah virus corona diketahui sebagai penyebab penyakit ini, kecurigaan pun muncul bahwa virus corona baru ini bersumber dari hewan. 

Sebagian besar virus corona bersirkulasi di antara hewan, tetapi enam spesies di antaranya berevolusi dan mampu menginfeksi manusia, seperti yang terlihat pada SARS, MERS dan empat virus corona lain yang menyebabkan gejala pernapasan ringan seperti pilek. Keenamnya dapat menular dari manusia ke manusia. 

Pada tahun 2002, dengan binatang musang sebagai sumber virus, wabah SARS dimulai di daratan Tiongkok dan menjalar hingga ke Kanada dan Amerika. Akibatnya, lebih dari 700 orang meninggal di seluruh dunia. 

Kasus SARS terakhir dilaporkan pada tahun 2004. Pada saat itu, pemerintah Tiongkok dikritik oleh WHO karena bersikap lamban dalam menangani virus tersebut. Sepuluh tahun setelah SARS, penyakit MERS mengakibatkan lebih dari 850 orang tewas di 27 negara. 

Wabah virus corona dari Wuhan dikaitkan dengan pasar yang menjual hewan untuk dikonsumsi, sehingga penyakit tersebut diduga berasal dari hewan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa wabah virus corona baru akan mirip dengan wabah SARS. 

Peta Ciela

Peta Ciela adalah peta kuno yang digambarkan pada sehelai kain katun (boweh) ditemukan di kampung Ciela, Garut. Peta ini menggambarkan wilayah Jawa Barat. Peta ini menyebutkan nama-nama tempat, sungai dan gunung yang ditulis dengan huruf Sunda. 

Dalam peta ini tertera nama Nusa Kalapa, yang sekarang menjadi kota Jakarta. 

Di pedalaman selatan, tertulis kota Pajajaran diantara sungai Ciliwung dan Cisadane. 

Peta ini telah di tulis kembali oleh KF Holle dalam tulisan "De kaart van Tjiela of Timbanganten" 

Menurut perkiraan Holle, peta ini berusia 300 tahun. 

Denys Lombard pernah mengatakan "Tak syak lagi Kepulauan Hindia telah menerima peta sebelum kedatangan orang-orang Eropa pertama" 

Bukti meyakinkannya belum ditemukan, tetapi peta masih tersimpan di desa Ciela. Keyakinan Lombard muncul dari tulisan kuno. 

Peta ini ketika ditemukan oleh seorang controleur Belanda, tahun 1858, masih tersimpan di desa kecil di sebelah selatan Garut, bersama pusaka-pusaka yang lain. 

KF Holle sempat menyalinnya pada tahun 1876. 

Dokumen yang digambar dengan tinta di atas kain katun itu hilang tanpa jejak. 

Ketika akan dipamerkan di Museum Baru Kota Jakarta sekitar tahun 1975, terpaksa dibuat sebuah kopi di atas katun putih halus berdasarkan salinan yang dibuat oleh Holle. 


Berikut ini salinan dari artikel berbahasa Sunda dalam Majalah Mangle No.398 Nopember 1973 berjudul “Rd. Haji Muhammad Musa, Mapay Atlas Sunda ka Ciela” yang mengutip tulisan KF Holle tentang perjalanan R.H. Muhammad Musa dan J.C. Lammers ke kampung Ciela untuk menyelidiki keberadaan sebuah peta unik dan dikeramatkan penduduk setempat. Peta itu digambar pada sebuah kain putih yang keterangan-keterangan di dalamnya ditulis dengan menggunakan aksara Jawa dan Sunda. 

Artikel “Rd. Haji Muhammad Musa, Mapay Atlas Sunda ka Ciela” dalam Mangle No.398 Nopember 1973.

Sunday, March 1, 2020

PAREWA

PAREWA merujuk pada pemuda dalam masyarakat Minangkabau yang dianggap kurang atau tidak memperhatikan norma-norma sosial atau agama. 
Secara etimologi, Parewa berarti penjahat atau perusuh. 
Mereka memiliki kemampuan tertentu seperti kelincahan dalam pencak silat, ilmu hitam dan berjudi. 
Mereka berprinsip tidak akan pernah melakukan kejahatan di kampungnya ataupun orang kampungnya.

Dalam beberapa catatan, sebagian dari mereka pernah menggerakkan perlawanan terhadap penjajah atau orang kaya yang menjerat kalangan bawah dengan hutang.

Seiring dengan perkembangan zaman, terutama pada masa pemerintahan Belanda, sebagian mereka dimanfaatkan orang kaya, cukong cina dan pengusaha Eropa sebagai kaki tangan untuk menjual candu dan memungut hutang. 

Parewa disinggung dalam kesusastraan modern berlatar Minangkabau. 

Dalam kaba klasik Minangkabau berjudul Gadih Ranti, diceritakan sosok Parewa yang dimaanfaatkan oleh Angku Palo untuk menyingkirkan Bujang Saman, tunangan Gadih Ranti. 



KF Holle


Monumen KF Holle di alun-alun Garut pada tahun 1901

Karel Frederik Holle adalah seorang Belanda pemilik perkebunan di Garut & juga diangkat menjadi penasehat pemerintah Hindia Belanda. 

Holle sangat berminat terhadap bahasa dan kesusastraan pribumi, khususnya bahasa Sunda, karena ia pernah bertugas di daerah Priangan Timur. 

Sahabat sekaligus murid Holle adalah Muhamad Musa, seorang pejabat pribumi di Limbangan Garut, yang banyak menghasilkan karya sastra dalam bahasa Sunda.

Selain sebagai pejabat kolonial dan peneliti budaya, Holle juga terkenal sebagai pekebun teh.