Monday, January 13, 2020

Waterleiding (air ledeng)

Hikayat Air Ledeng
Dari  waterleiding (jaringan pipa air) pada zaman Hindia Belanda, lahirlah istilah air ledeng.

Pada kurun waktu 1900 hingga 1920, jaringan pipa air alias waterleiding yang biasanya dikelola perusahaan atau jawatan, jauh lebih terbatas daripada sekarang. 

Orang yang kaya raya belum tentu setuju waterleiding. 

Waterleiding hadir sebagai solusi penyedia air bersih di zaman kolonial, termasuk keperluan air bersih untuk minum. 

Ratusan tahun sebelumnya, menurut penelusuran Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin, sejak lama orang di Asia Tenggara memenuhi kebutuhan air bersih dengan mengendapkan air sungai cukup lama agar jernih. Orang Siam (Thailand) bahkan harus mengendapkannya selama tiga minggu sampai satu bulan di dalam gentong atau kendi.

Pemerintah kolonial yang punya kepentingan akan air bersih pun mengurusi banyak mata air dan membangun banyak menara air di beberapa kota di Indonesia. 

Contohnya di alun-alun kota Magelang. Mata air dan menara air itu terkait pula dengan waterleiding, jawatan penyedia air bersih via pipa yang baru marak di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. 

Di masa itu, air bersih sudah dirasa jadi masalah yang harus diselesaikan di Jakarta. 

Menurut catatan Mona Lohanda dalam Sejarah Sosial DKI Jakarta Raya (1984), air bersih untuk Gemeente Batavia (Kotapraja Jakarta) berada di Ciomas, dekat Bogor.

Air itu disalurkan lewat waterleiding. Pembangunannya sudah disetujui oleh sidang Gemeente pada 21 Oktober 1918 dan dikerjakan dalam waktu empat tahun. 

Waterleiding itu diresmikan pada tanggal 23 Desember 1922. tanggal ini dijadikan hari ulang tahun Perusahaan Air Minum Jakarta Raya (PAM-Jaya) 

Tentu tak hanya Jakarta saja yang punya waterleiding. Koto Gadang, sebuah daerah di Sumatera Barat, juga sudah mempunyainya sebelum Indonesia merdeka. Menurut catatan Azizah Etek, dkk dalam Koto Gadang Masa Kolonial (2007) penggagasnya adalah seorang Minang yang cukup disegani dan pernah jadi anggota dewan rakyat Volksraad, Yahya Datuk Koyo. 
Ia adalah ayah Gubernur Militer Jakarta tahun 1950, Daan Yahya. Gagasan pengadaan waterleiding ini dikemukakan dalam Rapat Nagari, 9 Juli 1918.

Kala itu, Yahya Datuk Kayo adalah Demang Payakumbuh. Usulan ini disambut baik oleh ahli mata dokter Syaaf. 

Menurutnya, air yang biasa digunakan masyarakat kurang baik bagi kesehatan, termasuk kesehatan mata. 

Namun, pembangunan tidak bisa langsung dilakukan karena besarnya dana yang diperlukan. Pembangunan baru terlaksana pada 1932 dan diresmikan 30 Januari 1933.

Di Surabaya, menurut De Waterstaats Ingenieur Volume 7 (1919) dan Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe (2008) pemasangan pipa-pipa waterleiding oleh NV Biernie dianggap sudah selesai pada 1903 dan resmi dipakai pada 8 Oktober 1903. 

Pelanggannya di Surabaya tahun 1906 sudah mencapai 1.588 dengan volume air yang terpakai 9.000 m3 tiap harinya.  

Saat ini di tiap daerah ada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang memasok air bersih ke masyarakat melalui jaringan pipa waterleiding seperti zaman kolonial dulu. Jangkauan jaringan pipanya lebih banyak ketimbang waterleiding kolonial. 

Meski tak lagi dianggap kemewahan, hingga kini tak semua orang Indonesia mandi dari air waterleiding atau pipa-pipa PDAM. Itulah sebabnya air sumur dan pompa air populer. 

Di zaman kolonial, Waterleiding terkait dengan jawatan bernama Burgeiljke Openbare Werken (BOW) alias Pekerjaan Umum. 

Perlahan, istilah waterleiding yang masih dipakai pada zaman Sukarno pun berganti sebagai PAM (singkatan dari Perusahaan Air Minum)

Namun, istilah "air ledeng" masih ada dan bersanding dengan PAM. 

Orang-orang di Surabaya menyebutnya banyu ledeng (air ledeng) 

Di Bandung, terdapat kawasan dan terminal dengan nama Ledeng dan di situ pula terdapat pipa-pipa air warisan waterleiding zaman Hindia Belanda.

Rumah Tanjung Timur (Villa Nova)


Rumah Tanjung Timur, sebuah bangunan peninggalan abad ke-18 ini difoto sekitar tahun 1930-an. 56 tahun sebelum terjadi kebakaran hebat yang menghangusan seluruh bangunan ini

Rumah Tanjung Timur (sebutan dalam Bahasa Belanda Groeneveld atau Tandjong-Oost Huis) adalah sebuah rumah peninggalan Kolonial Belanda yang terletak di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur. Bangunan yang dikenal dengan sebutan Villa Nova ini letaknya tidak jauh dari kali Ciliwung yang mengalir di halaman belakang bangunan ini. Bangunan ini terbakar pada tahun 1985 dan kini hanya menyisakan puing-puingnya saja. 

Sejarah

Pemilik pertama bangunan ini, Pieter van de Velde merupakan salah satu anggota Dewan Hindia yang berasal dari Amersfoort. 

Setelah meletusnya peristiwa Geger pacinan yang melanda hampir seluruh Kota Batavia, van de Velde membeli sebuah lahan milik Kapiten Nie Ho Kong dan wilayah lainnya di bagian selatan Meester Cornelis, yaitu di sebelah timur kali Ciliwung

Lahan tersebut dinamakan Tandjoeng Oost. Di atas lahan tersebut dibangunlah sebuah landhuis yang megah pada tahun 1756. Belum lama kemudian Pieter van de Velde meninggal pada tahun 1759

Pemilik selanjutnya Adrian Jubbels membeli landhuis ini pada tahun 1763. 

Setelah Adrian Jubbels, landhuis ini kemudian dimiliki oleh Jacobus Johannes Craan di tahun yang sama. 

Johannes Craan menamai landhuis ini Groeneveld dan merenovasi seluruh landhuis ini dengan ornamen gaya Louis XV. Pintu serta jendela yang mengadopsi gaya Tionghoa. keseluruhan bangunan ini tidak mengalami perubahan sampai pada akhirnya terbakar pada tahun 1985.

Setelah Johannes Craan meninggal pada tahun 1780, bangunan ini diwariskan kepada putrinya, Catharina Margaretha Craan yang kemudian diambil alih oleh suaminya, Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk (anak kedua dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk

Helvetius van Riemsdijk sendiri sebelumnya sudah menduduki pangkat tertinggi di bidang administratif Pulau Onrust ketika masih berumur 17 tahun. 

Helvetius van Riemsdijk juga memiliki berbagai lahan dan perkebunan tebu di daerah Tanah AbangCibinongCimanggisCiampeaCibungbulangSadeng dan Tanjong-Oost. 

Semua properti tersebut tetap dimiliki oleh keluarga van Riemsdijk hingga memasuki Perang Dunia Kedua.

Pada masa Perang Dunia Kedua, bangunan ini dipakai oleh tentara Jepang sebagai gudang. 

Setelah Perang Dunia Kedua selesai, bangunan ini dipakai sebagai markas Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Soekarno

Setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I dan II, bangunan ini diambil alih oleh NICA dan untuk dijadikan tempat perkebunan karet.

Terakhir bangunan ini dimiliki oleh Haji Sarmili yang kemudian dijadikan hotel lalu dijadikan tempat perkantoran. 

Pada tahun 1962, Haji Sarmili menjual propertinya kepada Polda Metro Jaya

Pada tahun 1985, Bangunan ini hangus terbakar karena adanya ledakan yang berasal dari dapur bangunan ini. Alhasil bangunan ini menyisakan puing puingnya saja tanpa adanya perbaikan. Status lahan ini dilindungi, tetapi struktur bangunan ini dibiarkan saja hingga sekarang. 

Cina Benteng

Cina Benteng adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, provinsi Banten.
Pernikahan pada kalangan Tionghoa Benteng.

Sejarah

Denah Benteng Tangerang tertanggal 1709

Nama "Tionghoa Benteng" berasal dari kata "Benteng" nama lama kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang di pinggir sungai Cisadane, difungsikan sebagai pos pengamanan mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini merupakan benteng terdepan pertahanan Belanda di pulau Jawa. Masyarakat Tionghoa Benteng telah beberapa generasi tinggal di Tangerang yang kini telah berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.

Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan) keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 M. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Warga Tionghoa Benteng sempat bersitegang dengan penduduk pribumi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 23 Juni 1946, rumah-rumah etnis Tionghoa di Tangerang diobrak-abrik. Penduduk yang didukung oleh kaum Republik menjarah rumah-rumah warga Tionghoa Benteng. Bahkan meja abu yang merupakan bagian dari ritual penghormatan leluhur tionghoa ikut dicuri. 

Kemarahan penduduk pribumi dipicu seorang tentara NICA dari etnis Tionghoa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda. 

Rosihan Anwar dalam harian Merdeka 13 Juni 1946 menulis pada saat itu hubungan warga Tionghoa Benteng dan pribumi mengalami kemunduran paling ekstrem. Terlebih setelah Pao An Tui, kelompok pemuda Tionghoa Benteng pro-NICA, mengirim pasukan bersenjata dan mengungsikan masyarakat Tionghoa Benteng yang selamat ke Batavia. Namun akhirnya kerusuhan pro-kemerdekaan itu berhasil diredam oleh koalisi antara tentara Pao An Tui dan tentara Kolonial Belanda.

Saat itu semua etnis Tionghoa Benteng nyaris terusir dan ketika kembali mereka tidak lagi mendapatkan tanah mereka dalam keadaan utuh. Tanah-tanah para tuan tanah diserobot pribumi. Atau mereka mendapati rumah-rumah yang mereka tinggalkan telah rata dengan tanah. 

Penggolongan

Orang Tionghoa Benteng terbagi menjadi dua golongan berdasarkan keberangkatan mereka dari Tiongkok

Golongan pertama adalah mereka yang datang pada abad ke-15. mereka datang untuk menjadi petani, buruh, pekerja dan pedagang. 

mereka mencapai Tangerang dengan menggunakan perahu sederhana. dan pada awalnya hidup pas-pasan dan bekerja sama dengan kolonial Belanda untuk mencapai standar hidup yang lebih baik. Dewasa ini kebanyakan Tionghoa Benteng golongan pertama ini hidup pas-pas an dan sudah terasimilasi dengan budaya pribumi Sunda dan Betawi. Kebanyakan dari mereka tinggal di pedesaan.

Golongan kedua adalah orang Tionghoa yang datang pada abad ke-18 dan mendapat restu dan perbekalan dari Kaisar, dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap Tiongkok dan Kaisar Dinasti Qing. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda, mereka datang dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi buruh, pedagang dan banyak juga yang menjadi tentara kolonial Belanda. Tionghoa Benteng golongan kedua ini juga adalah proyek pemerintah kolonial Belanda yaitu "One harmony between 3 races, under one loyalty to the Dutch colonial Empire" Proyek pemerintah kolonial ini adalah menggabungkan tiga bangsa yaitu Tionghoa, Belanda dan Sunda-Betawi menjadi satu etnis dengan komposisi 50% tionghoa, 37,5% Sunda-Betawi dan 12,5% Belanda dengan harapan "ras baru" ini hanya akan loyal terhadap pemerintah Belanda. Tionghoa Benteng golongan kedua ini hampir semuanya hidup sejahtera dan mewah.

Pakaian adat

Pakaian adat suku Tionghoa Benteng merupakan perpaduan antara pakaian adat suku besar Tionghoa (yang didominasi suku Hokkian) dan pakaian adat suku Betawi. Pakaian adat prianya berupa baju koko hitam dan celana panjang dengan topi yang khas yang mirip dengan caping. 

Sedangkan pakaian adat wanitanya dinamakan hwa kun yang berupa blus dan bawahan lengkap dengan hiasan kepala serta tirai penutup wajah. Namun seringkali digunakan pula kebaya encim dengan aksen kembang goyang sebagai hiasan kepala yang menunjukkan pengaruh Betawi dalam pakaian tersebut.

Kontribusi dalam kelangsungan kolonialisme Belanda

Mereka berkontribusi besar terhadap kelangsungan kekuasaan kolonial Belanda di Tangerang. banyak dari mereka yang diangkat menjadi kapiten Tionghoa pada era feodalisme tuan tanah di Tangerang dan mereka sangat loyal terhadap Belanda. 

Pada saat Jepang menduduki Indonesia, mereka melawan Jepang dengan gagah berani walaupun akhirnya kalah. 

Tangerang merupakan daerah terakhir yang dikuasai Belanda di pulau Jawa. daerah ini baru diserahkan kepada Republik pada tahun 50-an.

Pada tahun 1946, terjadi kerusuhan etnis di Tangerang, Pribumi menuduh Tionghoa berpihak ke Belanda. 

Terlebih setelah Pao An Tui, tentara Tionghoa Benteng pro-NICA, mengirim tentara dan mengungsikan masyarakat Tionghoa Benteng yang selamat ke Batavia. Etnis pribumi pendatang (kebanyakan Jawa dan Madura) beserta beberapa kelompok religius Sunda dan Betawi melakukan peyerangan terhadap orang Tionghoa Benteng karena dianggap terlalu loyal terhadap NICA, akhirnya kerusuhan ini berhasil diredam oleh tentara gabungan NICA dan Pao An Tui yang membela orang Tionghoa Benteng.

Orang-orang Tionghoa Benteng merasa sangat kehilangan ketika Belanda meninggalkan Tangerang pada tahun 50-an dan menyerahkan kota itu kepada Republik karena mereka kehilangan pelindung mereka maka terjadilah penyerangan dan perampasan terhadap orang-orang Tionghoa Benteng. banyak di antara mereka yang dulunya kaya sekarang menjadi miskin karena harta leluhur mereka dirampas. Orang Tionghoa benteng hidup lebih sejahtera selama pada zaman kolonial belanda daripada setelah Tangerang masuk ke dalam Republik Indonesia. Di Belanda pun orang Tionghoa Benteng mudah ditemui di antara komunitas tionghoa disana, karena kebanyakan orang tionghoa yg ada di Belanda adalah orang Tionghoa Benteng yang melarikan diri setelah Tentara Pao An Tui mengalami kekalahan melawan tentara Republik. 

Masa kini

Orang Tionghoa Benteng dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap (walaupun tetap berkulit kuning) dibandingkan warga keturunan Tionghoa lainnya di Indonesia. mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam ketimbang orang Tiongkok. 

Kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian campuran betawi-tionghoa, Cokek yaitu sebuah tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik gambang kromong. Agama yang dianut beragam antara lain Konghucu, Buddhisme, Taoisme, Katholik, Protestan, Pemujaan Leluhur, Pemujaan Surga dan ada sedikit yang beragama Islam.

Hal menarik dari Tionghoa Benteng adalah biarpun mereka sudah tidak berbahasa Tionghoa lagi, mereka tetap melestarikan budaya leluhur dan tradisi Tiongkok. ini bisa dilihat dari tradisi pernikahan mereka yang menggunakan upacara pernikahan gaya Dinasti Manchu (Qing) 

mereka juga mengenakan pakaian gaya Dinasti Manchu seperti Manchu robe dan Manchu hat pada saat menikah. 

Orang Tionghoa Benteng adalah satu-satu nya komunitas Tionghoa di Indonesia yang memiliki darah orang Manchu karena hanya orang Tionghoa Benteng yang masih tetap menggunakan upacara nikah gaya Dinasti Manchu setelah Dinasti Qing runtuh pada tahun 1912. 

di tiongkok sendiri, upacara nikah gaya Dinasti Qing itu sudah hampir hilang dan sangat jarang ditemukan. 

Keturunan Dinasti Qing

Sebagian di antara warga Tionghoa Benteng yang bermarga 王 "Wang" (Hokkien : Ong) adalah keturunan dari keluarga kekaisaran Dinasti Qing (clan Manchu Aisin-Giorio atau Aixinjueluo dalam bahasa mandarin) 

Mereka adalah keturunan dari anak haram hasil hubungan gelap Kaisar Qianlong dengan seorang gadis cantik bermarga Oog di provinsi Fujian. 

Karena sang Kaisar tidak mau hubungan gelapnya diketahui publik maka untuk menyembunyikan fakta tersebut, anak hasil hubungan haram tersebut diberi nama marga Wang (王)

王 (Hokkien : Ong) adalah karakter Mandarin untuk "raja" yang digunakan untuk orang yang merupakan keturunan penguasa, namun tidak pernah berkuasa. 

Informasi yang salah menyatakan mereka menggunakan marga Ong karena ibu dari anak haram itu juga bermarga Ong, namun sebenarnya ini adalah sebuah kebetulan. Nama marga Wang pertama kali digunakan oleh Keluarga Zi (penguasa Dinasti Shang) kemudian oleh Keluarga Ji (penguasa Dinasti Zhou) saat mereka sudah tidak berkuasa lagi.

Namun tidak semua orang Tionghoa Benteng bermarga Ong adalah keturunan Aixinjueluo. Keturunan Kaisar Qianlong kini mengggunakan nama Indonesia Wangsa Mulya/Wangsa Mulia untuk membedakan diri dari marga Ong yang lain. 

Nama Wangsa Mulia sendiri berasal dari bahasa sanskerta, Wangsa (dinasti) dan Mulia (murni) apabila diterjemahkan ke bahasa inggris menjadi "Pure Dynasty" 

Sedangkan kata "Qing" sendiri berarti "pure" 

Sehingga secara harafiah Wangsa Mulia dalam Bahasa Sansekerta berarti "Qing Dynasty"

Seiring waktu kebanyakan orang dari keluarga Wangsa Mulya tidak menyadari kalau mereka adalah keturunan Dinasti Qing, namun bagaimanapun juga darah dan napas Kekaisaran Qing tetap mengalir pada diri mereka. Mereka hidup modern namun memegang teguh sifat ultra-konservatif seperti feodalisme dan anti-feminisme. Informasi terbaru menyatakan mereka mewarisi Ketuan tanahan luas yang meliputi daerah yang sekarang adalah sebagian dari BSD dan Gading Serpong.

Sejarah mengenai Tionghoa Benteng dapat dilihat di Museum Benteng Heritage, Pasar Lama, Tangerang. 

Nie ho kong

Nie Ho Kong adalah Seorang pemusik, pemimpin golongan Cina atau kapiten pada pertengahan abad XVIII di Batavia yang sangat berjasa mengembangkan orkes Gambang Kromong. 
Atas prakarsanyalah, penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik yang berasal dari Tiongkok. Pada masa-masa lalu, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah (pemuda) peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi dan Jakarta. 
Ia merupakan pemilik tanah Tanjung Timur (Tanjung Oost) kemudian tanah miliknya dibeli oleh Pieter van den Velde untuk selanjutnya dibangun sebagai gedung Groeneveld. 
Kapten Ni Hoe Kong kemudian diasingkan atau dipenjarakan bersama keluarganya meski tidak terbukti bersalah di Kubu Robijn oleh Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier di tahun 1740 saat terjadi Peristiwa Chinezenmoord (Pembantaian Tionghoa)

Tehyan

Tehyan adalah alat musik gesek yang terbuat dari kayu jati dengan tabung resonansi yang terbuat dari batok kelapa dan dilengkapi senar
Alat musik khas Betawi yang menghasilkan nada-nada tinggi ini diadaptasi dari budaya Tionghoa, biasanya dimainkan dengan alat-alat musik lainnya dalam musik tanjidor.

Alat musik ini merupakan gabungan (alkuturasi) adat Betawi dan Tiongkok yang masuk ke Indonesia ketika zaman kolonial Belanda, pada abad ke-18. 

Pada saat itu, tehyan sering digunakan pada pesta pernikahan, perayaan, hingga pemakaman. 

Sunday, January 12, 2020

Casey Jones

Jonathan Luther "Casey Jones" adalah seorang masinis kereta api Amerika. Dia tewas pada 30 April 1900, ketika kereta yang dia kemudikan bertabrakan dengan kereta barang lain. Kematiannya yang dramatis, ketika mencoba menghentikan kereta dan menyelamatkan nyawa para penumpangnya, membuatnya menjadi pahlawan rakyat. 

Dia diabadikan dalam balada populer yang dinyanyikan oleh temannya Wallace Saunders. 


CaseyJonesPortrait.jpg



Jones lahir di dekat Cayce, Kentucky. ia memperoleh julukan "Cayce" yang ia pilih untuk mengeja sebagai "Casey" 

Jones menikahi Mary Joanna "Janie" Brady, yang ayahnya memiliki rumah kos tempat Jones menginap. 
Karena ayah Janie seorang Katolik, dia memutuskan untuk bertobat dan dibaptis pada 11 November 1886. 
Mereka menikah di Gereja Katolik St. Mary, di Jackson pada 25 November 1886. 
Mereka membeli sebuah rumah di 211 West Chester Street, di Jackson, tempat mereka membesarkan ketiga anak mereka. 
dia bekerja sebagai pencatat alkohol. 

Jones kemudian bekerja untuk Mobile & Ohio Railroad. kinerjanya baik dan kemudian dipromosikan menjadi brakeman. Lalu kemudian menjadi pemadam kebakaran. 

Pada musim panas 1887, epidemi demam kuning menyerang banyak kru kereta api, yang memberikan kesempatan tak terduga untuk promosi lebih cepat petugas pemadam kebakaran di jalur itu. 

Pada 1 Maret 1888, Jones beralih ke IC, mengemudikan lokomotif pengiriman antara Jackson, Tennessee. Dia dipromosikan menjadi insinyur, tujuan seumur hidupnya, pada 23 Februari 1891. Jones mencapai puncak profesi perkeretaapian sebagai insinyur lokomotif ahli untuk IC. 

Railroading adalah bakat Jones, dan diakui oleh rekan-rekannya sebagai salah satu insinyur terbaik dalam pekerjaan ini. Dia dikenal karena tepat waktu. 

Jones juga terkenal karena keahliannya yang aneh dengan peluit kereta. Peluitnya terbuat dari enam tabung tipis yang diikat menjadi satu. yang terpendek adalah setengah dari yang terpanjang. Suara uniknya, melibatkan nada berlarut-larut, yang dimulai dengan lembut, bangkit dan kemudian menghilang menjadi bisikan, suara yang menjadi ciri khasnya. Suara dengan beragam itu digambarkan semacam panggilan whippoorwill, atau seperti teriakan perang seorang Viking. 

Orang-orang yang tinggal di sepanjang garis IC, antara Jackson dan Water Valley, akan berbalik di tempat tidur mereka setelah mendengarnya dan berkata "ini dia Casey Jones" ketika ia menderu. 

Selama Pameran Kolumbia Dunia di Chicago tahun 1893, IC menyediakan layanan komuter bagi ribuan pengunjung ke pameran itu. 

Sebuah surat dikirim untuk para pekerja yang ingin bekerja di sana. Jones menjawabnya, menghabiskan musim panas yang menyenangkan di sana bersama istrinya. 

Dia mengantar banyak orang dari Van Buren Street ke Jackson Park selama pameran. Itu adalah pengalaman pertamanya sebagai insinyur dalam layanan penumpang. 

Casey Jones di kabin No.638, tahun 1898

Di pameran (The Chicago World's Fair) ia berkenalan dengan No. 638, sebuah mesin pengangkut yang dipamerkan IC sebagai kemajuan teknologi terbaru dan terhebat dalam kereta api. 

Pada penutupan pameran, No. 638 dijadwalkan akan dikirim ke Water Valley untuk layanan di Distrik Jackson. 

Jones meminta izin untuk menggerakkan mesin kembali ke Water Valley. Permintaannya disetujui dan No. 638 menjalankan 948 mil pertamanya (948 km) dari throttle ke Water Valley. 

Jones menyukai No. 638 dan suka bekerja di Distrik Jackson karena keluarganya ada di sana. Mereka pernah pindah ke Water Valley tetapi kembali ke Jackson.

Jones mengemudikan mesin sampai ia dipindahkan ke Memphis pada Februari 1900. No. 638 tetap di Water Valley. 

Tahun itu ia mengemudikan mesin yang menjadi paling dekat dengannya, Mesin No. 382 ​​yang dikenal sebagai "Ole 382" atau "Cannonball" mesin yang sangat kuat untuk saat itu. 

Ketika potensi bencana muncul, semua keterampilan Jones dan responsif mesin diuji. 

Pemadam kebakaran reguler di No. 638 adalah teman dekatnya, John Wesley McKinnie, ia bekerja secara eksklusif dari sekitar 1897 sampai ia pergi ke Memphis. Di sana ia bekerja dengan pemadam kebakaran berikutnya dan terakhir Simeon T. "Sim" Webb pada tahun 1900. 

Contoh insting heroik Jones dalam aksi yang diketahui, dijelaskan oleh penulis biografi dan temannya, Fred J. Lee, dalam bukunya, Casey Jones : Epic of the American Railroad (1939)

Dia menceritakan sebuah kejadian pada tahun 1895 ketika kereta Jones mendekati Michigan. Dia meninggalkan pos, yang bertanggung jawab adalah sesama insinyur, Bob Stevenson, yang telah mengurangi kecepatan cukup agar Jones dapat berjalan dengan aman di papan dan berlari untuk memberi minyak pada katup-katup bantuan. 

Dia maju dari papan, berlari ke dada uap dan kemudian ke balok pilot untuk menyesuaikan layar percikan. Dia selesai sebelum mereka tiba di stasiun, sesuai rencana dan kembali ke pos ketika dia melihat sekelompok anak kecil melesat di depan kereta sekitar 55 meter di depan. 

Semua berlari meninggalkan rel dengan mudah, kecuali seorang gadis kecil yang tiba-tiba membeku ketakutan melihat lokomotif yang akan datang. 

Jones berteriak kepada Stevenson untuk membalikkan kereta dan berteriak kepada gadis itu untuk keluar dari rel dengan napas yang hampir sama. Menyadari bahwa gadis itu masih tidak bisa bergerak, dia berlari ke ujung pilot atau cowcatcher dan berdiri di atasnya, menjangkau sejauh yang dia bisa untuk menarik gadis yang ketakutan. 

Kejadian ini sebagian di spoofed pada Insinyur Berani, di mana pahlawan menyelamatkan seorang gadis dari bandit. 

Jones diberikan sembilan kutipan untuk pelanggaran aturan dalam karirnya dengan total 145 hari ditangguhkan. Tetapi pada tahun sebelum kematiannya, Jones tidak diberikan kutipan karena pelanggaran peraturan. 

Petugas kereta api yang bekerja dengan Jones menyukainya, tetapi mengakui bahwa dia sedikit mengambil risiko. 

pada bulan Februari 1900, dia dipindah dari Jackson ke Memphis untuk perjalanan penumpang antara Memphis dan Canton. 

Ini adalah salah satu penghubung dari empat jalur kereta yang disebut dengan penumpang "cannonball" 

"Cannonball" adalah istilah kontemporer yang diterapkan untuk surat cepat dan kereta penumpang cepat pada masa itu, tetapi itu adalah istilah umum untuk layanan kecepatan. 

Kereta ini menawarkan jadwal tercepat dalam sejarah perkeretaapian Amerika. Beberapa insinyur veteran meragukan waktu cepatnya dapat dipenuhi. 

Marker di Memphis, Tennessee, memperingati Casey Jones

Ada ketidaksepakatan tentang keadaan sebelum perjalanan terakhir Casey Jones yang fatal. 

Dalam akun yang diberikan dalam buku Railroad Avenue oleh Freeman H. Hubbard, yang didasarkan pada wawancara dengan pemadam kebakaran Sim Webb, ia dan Casey telah bekerja ekstra pada kereta 3 dan 2 untuk menutupi insinyur Sam Tate, yang sakit. 

Mereka kembali ke Memphis pada pukul 6:25 pagi 29 April, memberi mereka waktu yang cukup untuk beristirahat di nomor 1. 

Casey Jones berpendapat bahwa orang-orang itu tiba di Memphis jam 9 malam tanggal 29 April. 

Mereka diminta untuk berbelok ke kanan dan mengambil nomor 1 kembali ke Kanton untuk mengisi Sam Tate. Ini akan memberi mereka sedikit waktu untuk beristirahat, karena Nomor 1 dijadwalkan keluar pada jam 11:35 malam. Dalam kedua akun ini, run reguler Jones adalah kereta 1 dan 4. 

Di akun ketiga, kereta 3 dan 2 adalah jadwal reguler Casey dan Sim Webb. mereka diminta mengisi Sam Tate malam itu di No.1, setelah tiba pagi itu di No.2 

mereka meninggalkan Memphis dengan run fatal pada pukul 12:50, 75 menit dari jadwal karena terlambatnya kedatangan No.1 

Meskipun hujan, kereta uap pada zaman itu, beroperasi paling baik dalam kondisi lembab. Cuaca malam itu cukup berkabut, mengurangi jarak pandang dan jalurnya terkenal dengan lekuknya yang rumit. 

Pada bagian pertama lintasan, Jones melaju dari Memphis 100 mil (160 km) selatan ke Grenada dengan sebuah perhentian di Sardis (50 mil/80 km ke lintasan) melalui bagian baru dari rel ringan dan goyah dengan kecepatan hingga 80 mil per jam (130 km/jam) 

Di Senatobia (40 mil/64 km dalam kecepatan) Jones melewati lokasi kecelakaan fatal yang sebelumnya terjadi pada November sebelumnya. 

Jones menghentikan kereta di Sardis dan tiba di Grenada untuk mendapatkan lebih banyak air. 

Jones kembali membuat 15 menit dalam 40 mil (40 km) dari Grenada ke Winona. Peregangan 30 mil (48 km) berikut tidak memiliki kurva kecepatan terbatas. 

Pada saat ia tiba di Durant (155 mil/249 km) Jones hampir tepat waktu. Dia cukup senang dan mengatakan "Sim, gadis tua itu mengenakan sandal, menari di malam ini" ketika dia beristirahat di bar Johnson. 

Di Durant, ia menerima pesanan baru untuk dibawa ke Goodman, delapan mil/13 km selatan Durant dan 163 mil/262 km ke dalam lintasan, menunggu kereta penumpang No.2 lewat dan kemudian melanjutkan ke Vaughan. 

Perintahnya juga menginstruksikan dia untuk memenuhi kereta penumpang No.26 di Vaughan (15 mil/24 km selatan Goodman dan 178 mil/286 km ke dalam lintasan) 

Dia diberitahu bahwa No.26 adalah kereta penumpang lokal dalam dua bagian dan akan berada di sisi, jadi dia akan memiliki prioritas di atasnya. 

Jones berangkat dari Goodman hanya lima menit dari jadwal. Dengan jalur cepat 25 mil (40 km) di depan. Jones kemungkinan merasa bahwa dia memiliki peluang bagus untuk berhasil ke Canton pada pukul 4:05 pagi "on the advertised" 

Tidak diketahui oleh Casey, tiga kereta terpisah berada di stasiun di Vaughan, kereta barang sundulan ganda No.83 (terletak di utara dan menuju ke selatan yang telah tertunda karena memiliki dua drawbars ditarik ketika di Vaughan dan kereta barang panjang No.72 (terletak di selatan dan menuju ke utara) keduanya berada di jalur yang lewat di sebelah timur jalur utama. 

Karena panjang gabungan kereta adalah sepuluh kali lebih panjang dari panjang jalur yang melintas ke timur, beberapa mobil berhenti di jalur utama. Dua bagian dari kereta penumpang lokal No.26 di utara telah tiba dari Kanton sebelumnya dan meminta "gergaji" agar mereka bisa sampai ke "jalur rumah" di sebelah barat jalur utama. 

Manuver "saw by" mensyaratkan bahwa No.83 mundur (ke jalur utama) untuk memungkinkan No.72 bergerak ke utara dan menarik mobil-mobilnya yang tumpang tindih dari jalur utama dan ke jalur sisi timur dari sakelar selatan, sehingga memungkinkan dua bagian dari No.26 untuk mendapatkan akses ke jalur barat. meninggalkan mobil belakang No.83 tumpang tindih di atas saklar utara dan di jalur utama tepat di jalur Jones. 

Ketika para pekerja menyiapkan "gergaji" kedua untuk membiarkan Jones lewat, sebuah selang udara pecah di No.72, mengunci remnya dan meninggalkan empat mobil terakhir No.83 di jalur utama. 

Sementara itu, Jones hampir kembali sesuai jadwal, berlari dengan kecepatan sekitar 75 mil per jam (121 km/jam) menuju Vaughan dan melakukan perjalanan melalui kurva kiri 1,5 mil (2,4 km) yang menghalangi pandangannya. 

Pandangan Webb dari sisi kiri kereta, lebih baik dan dia yang pertama melihat lampu merah gerbong tukang rem di jalur utama. "Ya Tuhanku, ada sesuatu di jalur utama" dia berteriak kepada Jones. 

Jones cepat-cepat berteriak "Lompat Sim, lompat!" ke Webb yang berjongkok dan melompat dari kereta, sekitar 300 kaki (91 m) sebelum tumbukan dan jatuh pingsan karena kejatuhannya. 

Hal terakhir yang didengar Webb ketika dia melompat adalah tiupan peluit panjang yang menusuk ketika Jones memperingatkan siapa pun yang masih berada di kereta barang. Dia hanya dua menit dari jadwal. 

Jones membalikkan throttle dan membanting rem udara ke tempat pemberhentian darurat, tetapi "Ole 382" dengan cepat, membajak melalui gerbong kayu, satu tumpukan mobil jerami, satu lagi jagung dan setengah jalan melalui sebuah mobil kayu sebelum meninggalkan lintasan. 

Dia telah mengurangi kecepatannya dari sekitar 75 mil per jam (121 km/jam) menjadi sekitar 35 mil per jam (56 km/jam) 

Karena Jones tetap berada di pos untuk memperlambat kereta, ia diyakini telah menyelamatkan para penumpang dari cedera serius dan kematian. Jones adalah satu-satunya yang mati akibat tabrakan. Arlojinya berhenti pada saat tabrakan pukul 3:52 pada 30 April 1900. 

Legenda populer menyatakan, ketika tubuhnya ditarik dari reruntuhan, tangannya masih memegang kabel peluit dan rem. 

Sebuah tandu dibawa dari mobil bagasi di No.1 dan awak dari kereta lain membawa tubuhnya ke depot 1⁄ 2 mil (800 m) jauhnya. 

Friday, January 3, 2020

BELANDA DEPOK

Sampai beberapa puluh tahun silam, sebutan “Belanda Depok" masih sering terdengar oleh masyarakat di sekitar Depok di dalam kehidupan sehari-hari. 

Biasanya sebutan ini ditujukan untuk sekelompok orang warga Depok yang memiliki nama marga seperti kebelanda-belandaan. 

Ada Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel dan Zadokh. 

Bukan hanya nama, budaya dan kehidupan masyarakat itu juga banyak terpengaruh oleh tradisi masyarakat Belanda. 

Kelompok masyarakat itu tidak berkulit putih atau berhidung mancung layaknya ras kaukasoid. Sebab mereka sesungguhnya keturunan pribumi yang masih memiliki keterkaitan dengan era kolonialisme di masa silam, tepatnya saat pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa di Nusantara. 

Dan jika kita menelusuri sejarah masyarakat “Belanda Depok" maka akan kita jumpai sebuah nama yakni Cornelis Chastelein. 

Cornelis Chastelein adalah seorang pegawai perserikatan dagang Belanda (VOC) 

Di usia 17 tahun, dia ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai tenaga pembukuan. Anthony Chastelein ayahnya seorang Hugenot berasal dari Prancis yang melarikan diri ke Belanda akibat pertikaian agama di negerinya. Sedangkan Maria Cruydenier ibunya putri seorang walikota. 

Di VOC, karier Chastelein melesat hingga menjadi saudagar besar. Selang 17 tahun sejak pertama kali bertugas di Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1691, Chastelein menjabat sebagai saudagar senior kelas dua dari benteng Batavia. 

Menurut buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat DEPOK TEMPO DOELOE, yang ditulis seorang keturunan dari 12 marga Depok, Yano Jonathans, pada tahun itu juga Chastelein mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan kesehatan. 

Meski ada kemungkinan itu disebabkan ketidak setujuan dia dengan kebijakan politik dagang Gubernur Jenderal van Outshoorn. “Jadi waktu itu terjadi pergantian Gubernur Jenderal. Pada saat Gubernur Jenderal van Outshoorn bertugas, Chastelein tidak setuju dengan politik dagangnya karena keras sekali. Dia tidak setuju ada kekerasan di sana, kerja paksa, kerja rodi terhadap orang-orang pribumi” 

Setelah mengundurkan diri, Chastelein kemudian membeli beberapa wilayah di Batavia, seperti Noordwijk (sekarang Pintu Air di Jalan Juanda) dan Lapangan Banteng, untuk dijadikan perkebunan. 

Ia juga membangun rumah dan gereja kecil (kapel) di sekitar jalan Kenanga Pasar Senen. 

Selanjutnya untuk mengembangkan pertaniannya, ia membeli lagi beberapa tanah di Selatan Jakarta, yaitu Seringsing (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. 

Depok sendiri awalnya ada tanah yang dibeli Chastelein dari seorang Tionghoa bernama Tio Tong Ko, dan sebagian lagi dari Van Den Barlisen. Luasnya kira-kira 1.240 hektar. 

Untuk menggarap lahan pertanian itu, Chastelein juga membeli 150 budak di kawasan yang di Jakarta kini dikenal dengan nama Kampung Bali dan Kampung Bugis. Budak yang kemudian ditempatkan di Depok itu memang kebanyakan berasal dari Bali dan Sulawesi Selatan. 

Para budak inilah cikal bakal dari BELANDA DEPOK. 

Berbeda dengan stereotip tentang budak di masa silam yang penuh kesengsaraan, para budak milik Chastelein justru diberi kehidupan yang sejahtera. Mereka tidak hanya diminta untuk bercocok tanam, tetapi juga dididik dan diajarkan cara mengurus dan membangun sebuah sistem masyarakat. Para budak itu juga dibaptis dan menganut agama Kristen Protestan, hingga akhirnya setiap kepala keluarga diminta untuk memakai salah satu dari 12 nama Marga. 

Tiga bulan setelah membeli Depok, Chastelein membuat surat wasiat yang berisi pembebasan para budaknya. Dia juga memberikan harta bendanya dan sebagian wilayah Depok kepada para budaknya. 

Chastelein juga menyiapkan sebuah wilayah yang tidak boleh diganggu. Luasnya enam hektare yang kini menjadi semacam hutan lindung di tengah wilayah Depok. Wilayah yang kini itu dikenal dengan nama Taman Hutan Raya (Tahura) lokasinya tak jauh dari Stasiun Depok. 

Soal istilah “Belanda Depok" sebenarnya para orang tua di Depok merasa tidak nyaman mendengarnya. Sebab istilah itu sesungguhnya adalah sebuah olok-olokan di antara anak-anak muda dalam pergaulan sekolah mereka. 

Kisahnya berawal dari tahun 1876, saat alat transportasi kereta api dengan rute perjalanan Batavia-Buitenzorg (kini Jakarta-Bogor) sudah mulai beroperasi. 

Keberadaan transportasi umum itu membuat warga Depok yang sempat merasa terisolasi, bisa bepergian ke Jakarta atau Bogor. 

Begitu pula dengan muda-mudi Depok yang berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta. 

Dalam perjalanan kereta ini, anak-anak muda Depok tetap dengan gaya mereka sehari-hari yakni memakai bahasa Belanda selayaknya para sinyo dan noni Belanda. 

Tentu saja hal ini membuat mereka diolok-olok oleh rekan-rekan mereka yang berasal dari kawasan lain di sekitar Depok, hingga lahirlah istilah “Belanda Depok" 

Hebatnya, istilah ini bertahan sampai puluhan tahun kemudian. 

Lain dulu, lain sekarang. Kini jejak kehidupan budak Cornelis Chastelein sulit dijumpai di jantung kota Depok. Kita baru akan menemuinya di sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Kartini, itu pun sangat sedikit, yaitu gedung YLCC yang mulanya adalah rumah tinggal para pendeta, Gereja Immanuel Depok, SMA Kasih Depok, SD Pancoran Mas II Depok, Rumah Sakit Harapan, Jembatan Panus dan Pemakaman Kamboja. 

Untuk mempertahankan dan melestarikan peninggalan yang ada, YLCC berupaya menyelenggarakan diskusi dan seminar mengenai sejarah Depok. YLCC sendiri merupakan perkumpulan dari 12 kaum keluarga Depok. Yayasan ini dibentuk untuk memelihara aset-aset yang dulu dihibahkan oleh Chastelein kepada para budaknya. Yayasan ini juga memberi pelayanan sosial dan menyelenggarakan pendidikan bagi 11 keluarga yang tersisa dan 12 marga Depok. Sejak awal pendiriannya 4 Agustus 1952, yayasan ini tetap aktif sampai hari ini. 

Menurut buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe, dahulu Depok juga memiliki monumen yang berlokasi di depan Rumah Sakit Harapan. Monumen berbentuk tugu, berdiri atas prakarsa Presiden Depok, Johhanes Mathijs Jonathans. 

Cikal bakalnya dimulai pada 1871, saat Mr. H. Klein, seorang jaksa, mengusulkan agar masyarakat Depok tetap mengenang jasa Cornelis Chastelein. 

Sayangnya, tugu ini sudah tidak ada, akibat dirobohkan di tahun 1960-an. Kini ada upaya dari YLCC untuk membangun kembali tugu tersebut demi pengetahuan sejarah generasi penerus. 

Lucunya, di tengah pembangunan tugu, Pemerintah kota Depok sempat melarang. Namun persoalan ini akhirnya selesai, bahkan pembangunan akan diteruskan dengan gerbang cagar budaya.