Monday, February 17, 2020

Serat Centhini


Sampul buku "Ringkasan Centini (Suluk Tambanglaras) karya R.M.A. Sumahatmaka terbitan Balai Pustaka. 

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. 

Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. 

Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya. 

Menurut keterangan R.M.A Sumahatmaka, juru tulis resmi istana Mangkunegaran pada masa pemerintahan Mangkunegara VII, Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, putra Sunan Pakubuwana IV, yang kelak bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V. 

Sangkala Serat Centhini, yang nama lengkapnya adalah Suluk Tambangraras, berbunyi paksa suci sabda ji yang berarti tahun 1742 tahun Jawa atau 1814 Masehi, dalam masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV, atau enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan Pakubuwana V. 

Menurut catatan tentang naik tahtanya para Raja, Pakubuwana IV mulai bertahta pada tahun 1741 (Jawa) 

sedangkan Pakubuwana V mulai bertahta pada tahun 1748 (Jawa)

Yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa) di zaman pemerintahan Sunan Pakubuwana III. 

Tidak diketahui siapa yang mengarang Kitab Jatiswara. Bila dianggap pengarangnya adalah R. Ng. Yasadipura I, maka akan terlihat meragukan karena terdapat banyak selisihnya dengan Kitab Rama atau Cemporet. 

Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. 

Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom dan yang mendapatkan tugas membantu mengerjakannya adalah tiga orang pujangga istana : 

  1. Raden Ngabehi Ranggasustrana 
  2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I)
  3. Raden Ngabehi Sastradipura 

Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. 

Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yasadipura II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. 

Ranggasustrana yang menjelajah pulau Jawa bagian timur, telah kembali terlebih dahulu. Karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai mengarang. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala Paksa suci sabda ji.

Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid satu, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. 

Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.

Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. 

Penyebab Pangeran Adipati Anom mengerjakan sendiri keenam jilid tersebut diperkirakan karena ia kecewa bahwa pengetahuan tentang masalah senggama kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

Setelah dianggap cukup, maka Pangeran Adipati Anom menyerahkan kembali pengerjaan dua jilid terakhir (jilid sebelas dan dua belas) kepada ketiga pujangga istana tadi. 

Demikianlah akhirnya kitab Suluk Tambangraras atau Centhini tersebut selesai dan jumlah lagu keseluruhannya menjadi 725 lagu. 

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Mataram. 

Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. 

Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitat, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak dan kemudian tiba di Karang.

Gunung Salak 

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami "pendewasaan spiritual" karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa Kuno dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. 

Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar

Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.

Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. 

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para Nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan Dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh) Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama, karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang dari muka bumi. 

Karya ini boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai "dunia dalam" masyarakat Jawa. 

Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. 

Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. 

Sunan Pakubuwana VII, yang bertahta dari tahun 1757 sampai 1786, berkenan menghadiahkan Suluk Tambanglaras tersebut kepada pemerintah Belanda. Akan tetapi yang diberikan hanya mengambil dari jilid lima sampai sembilan, dengan menambah kata pengantar baru yang dikerjakan oleh R.Ng. Ranggawarsita III. Kitab tersebut bersangkala Tata resi amulang jalma, yang berarti 1775 dan dijadikan delapan jilid, diberi judul Serat Centhini yang terdiri dari 280 lagu. 

Sunday, February 16, 2020

sosial eksperimen

Eksperimen sosial adalah proyek penelitian yang dilakukan dengan subyek interaksi antar manusia di dunia nyata. 
Ini biasanya menyelidiki dampak dari intervensi kebijakan kepada individu, keluarga, bisnis, tingkat atau kelas, atau unit lain ke perlakuan yang berbeda serta kondisi terkendali yang mewakili status quo secara acak. 
Kualifikasi "sosial" membedakan kebijakan eksperimen dari percobaan "klinis" (untuk klinis, biasanya intervensi medis di dalam tubuh subjek dan juga dari percobaan laboratorium, seperti fakultas psikologi universitas dapat melakukan kondisi terkendali sepenuhnya) 
Dalam eksperimen sosial, pengacakan untuk percobaan kepada responden adalah satu-satunya elemen di lingkungan subjek yang dikendalikan oleh peneliti. Semua elemen lainnya tetap seperti apa adanya. 

Percobaan sosial sering disebut sebagai "standar emas" untuk evaluasi program dan proses reformasi. 

Dalam mengukur dampak program sosial, peneliti harus menilai hasil populasi yang relevan dengan ketika belum diadakannya program. 

Hampir setiap kelompok perbandingan alami, bagaimanapun akan berbeda dengan komposisi kelompok yang terstruktur, biasanya karena bias responden (di luar percobaan, orang memilih untuk menerima perlakuan atau tidak menerima) 

Pengacakan menciptakan kelompok kontrol yang secara statistik identik dalam sampel besar dengan kelompok yang ditugaskan untuk menerima perlakuan. 

Sejarah

Diferensiasi awal bidang umum psikologi menjadi psikologi fisiologis dan sosial seperti yang disarankan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1862 untuk eksploitasi sosial pertama. 

Pada tahun 1895, psikolog Amerika Norman Triplett membangun salah satu percobaan sosial pertama, dengan maksud untuk mempelajari pengaruh kelompok pada kinerja balap. 

Selama tahun 1920, Gordon Allport menggunakan metode eksperimental untuk mempelajari kesesuaian, komunikasi nonverbal dan fasilitasi sosial, membentuk psikologi sosial seperti yang kita ketahui. 

Eksperimen sosial yang biasa kita lihat sekarang dilakukan beberapa dekade kemudian. 

Contoh yang terkenal adalah percobaan ketaatan Stanley Milgram pada tahun 1963. Percobaan sosial dimulai di Amerika Serikat sebagai ujian konsep Pajak Penghasilan Negatif di akhir tahun 1960an, dan sejak saat itu telah dilakukan di semua benua yang berpenduduk. 

Beberapa "pilot telah menguji inovasi utama dalam kebijakan sosial" beberapa "telah digunakan untuk menilai perubahan inkremental dalam program yang ada" sementara beberapa "telah memberikan dasar untuk mengevaluasi keseluruhan kemanjuran program-program utama yang ada. 

Sebagian besar "telah digunakan untuk mengevaluasi kebijakan yang ditargetkan pada kelompok penduduk yang kurang beruntung"

Selama tahun 1970an, cristicisme etika dan tuduhan gender dan bias ras menyebabkan penilaian ulang baik bidang psikologi sosial dan eksperimen yang dilakukan. Sementara metode eksperimen masih digunakan, metode lain mendapatkan popularitas. 

Contoh percobaan sosial

Pada masa sekarang percobaan sosial banyak dilakukan melalui kanal-kanal dunia maya. 

Para peneliti menggunakan responden berupa kontributor-kontributor dunia maya (netizen) baik melalui media sosial, blog dan halaman survei dalam bentuk web.

Saat ini kita sering melihat istilah percobaan sosial di platform berbagi video seperti Youtube yang digunakan untuk eksperimen orang awam, di mana aktor mencoba memprovokasi tanggapan dari orang yang lewat, biasanya difilmkan dengan kamera tersembunyi. 


Bujangga Manik

Tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun sebenarnya ia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor. 

Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke timur Jawa. 

Pada perjalanan kedua, Bujangga Manik malah sempat singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. 

Dari ceritera dalam naskah tersebut bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. 

Penyebutan Majapahit, Malaka dan Demak membawa pada perkiraan bahwa naskah ini ditulis akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. 

Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat. 

Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang

Naskah ini ditulis dengan genre santri lelana (orang pintar yang berkelana) 

suatu genre yang cukup umum dipakai pada naskah-naskah dari masa berikutnya, seperti misalnya Serat Centhini. 

Diceritakan bahwa Bujangga Manik akan meninggalkan ibunya untuk pergi ke arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat kepala (saceundung kaen)

Perjalanan pertamanya dilukiskan secara terperinci. 

Waktu mendaki daerah Puncak, Bujangga Manik menghabiskan waktu seperti seorang pelancong zaman modern. dia duduk, mengipasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung Gede yang dia sebut sebagai titik tertinggi dari kawasan Pakuan (ibu kota Kerajaan Sunda)

Dari Puncak dia melanjutkan perjalanan sampai menyebrangi Ci Pamali (sekarang disebut Kali Brebes) untuk masuk ke daerah Jawa. 

Di daerah Jawa dia mengembara ke berbagai desa yang termasuk kerajaan Majapahit dan juga kerajaan Demak. 

Sesampai di Pamalang, Bujangga Manik merindukan ibunya dan memutuskan untuk pulang. Namun pada kesempatan ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan menaiki kapal yang datang dari Malaka. 

Kesultanan Malaka mulai pertengahan abad ke-15 sampai ditaklukkan oleh Portugis menguasai perdagangan pada perairan ini.

Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan dengan keras oleh awak kapal, gambaran terperinci mengenai bahan yang digunakan untuk membuat kapal diceritakan, berbagai jenis bambu dan rotan, tiang dari kayu laka, juru mudi yang berasal dari India juga disebutkan. 

Bujangga Manik benar-benar terpesona karena awak kapal berasal dari berbagai tempat atau bangsa.

Perjalanan dari Pamalang (sekarang Pemalang) ke Kalapa, pelabuhan Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan. 

yang memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat di antara Pamalang dan Kalapa. 

Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran. 

Dari Kalapa, Bujangga Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di Pakuan, di bagian selatan kota Bogor sekarang. 

Bujangga Manik memasuki Pakancilan, terus masuk ke paviliun yang dihias cantik dan duduk di sana. 

Dia melihat ibunya sedang menenun. Ibunya terkejut dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis tirai dan naik ke tempat tidurnya.

Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, menghidangkan sebaki bahan untuk mengunyah sirih, menyisirkan rambutnya dan mengenakan baju mahal. 

Dia kemudian turun dari kamar tidurnya, keluar dari rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. Bujangga Manik menerima perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.

Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana

Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan istananya menyeberangi Ci (Sungai) Pakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. Di istana tersebut dia bertemu seorang asing yang sedang mengunyah sirih yang ternyata adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan Bujangga Manik.

Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung Larang yang kebetulan sedang sibuk menenun. Putri yang mengenakan gaun serta di sampingnya ada kotak impor dari Cina melihat Jompong Larang yang terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.

Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya. Jompong Larang mengatakan bahwa dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih Wangi atau sepupu sang putri atau siapapun itu. 

Lebih dari itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa berbahasa Jawa. 

Putri Ajung Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan pekerjaan menenunnya dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah bagi pria muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih, menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal, seluruh wewangian tersebut berasal dari luar negeri, juga baju dan sebuah keris yang indah.

Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putri Ajung Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa, serta pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang tidak pernah disampaikan putri Ajung Larang "Saya akan menyerahkan diri saya. Saya akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima sebagai kekasih" 

Ameng Layaran terkejut mendengar ucapan-ucapan ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata terlarang (carèk larangan) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut dengan kata-kata yang panjang juga. 

Dia meminta ibunya bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada putri, serta menghibur putri. Dia lebih suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran yang dia terima selama perjalanannya ke Tanah Jawa di pesantren di lereng Gunung Merbabu (yang dia sebut dalam naskah ini sebagai Gunung Damalung dan Pamrihan) 

Untuk itulah Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya.

Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. 

Dia kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti dia dikuburkan, untuk mencari "laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya" 

Dengan kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjangnya.

Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang. 


michat

Hari ini gw coba sedikit ungkap tentang sosial eksperimen gw dari sebuah aplikasi sosial yang ada di handphone, yaitu aplikasi michat 

ARUNG PALAKKA, TETE JONKER & SPEELMAN

ARUNG PALAKKA, JAGOAN BATAVIA dari Bugis. 

Jauh sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. 
Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. 
Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. 
Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660 ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.

Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. 
Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. 
Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. 
Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes, bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.

Saya menemukan nama Arung Palakka saat membaca sebuah arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) 
Saya juga membaca sebuah novel yang berisikan data sejarah tentang Batavia di masa silam dengan sejarah kelam yang membuat bulu kuduk bergidik. 
Selama beberapa hari ini, sejarah Batavia seakan berpusar terus di benak saya. Berbagai referensi itu menyimpan sekelumit kisah tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri gagah di tengah Kota Watampone.

Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. 
Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. 
Namun ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. 
Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian memuncak tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. 
Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.
Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. 
Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. 
Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dalam tawanan Makassar. 
Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. 
VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. 
Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. 
Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. 
Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya. 

Sumber : grup FB Bugis 

durga


Wikipedia

Menurut kepercayaan umat HinduDurga (Dewanagari: दुर्गा) adalah shakti Siwa. Dalam agama Hindu, Dewi Durga (atau Betari Durga) adalah ibu dari Dewa Ganesa ,Dewa Kumara (Kartikeya) Ashokasundari Dan Dewa Kala

Durga
Dewa Hindu
Dewi kemenangan
Ejaan Dewanagariदुर्गा
Ejaan IASTDurgā
GolonganDewi
SenjataCakrampetirterataiularpedanggadaterompet kerangtrisula
Wahanadawon (macan atau singa)
PasanganSiwa

Ia kadangkala disebut Uma atau Parwati. Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu.

Di Nusantara, Dewi ini cukup dikenal pula. Candi Prambanan di Jawa Tengah, misalkan juga dipersembahkan kepada Dewi ini. Dewi Durga adalah Dewi yang sangat cantik dan pemberani, Beliau juga dikenal sebagai Mahisasura Mardini yang artinya penakluk asura. Bagi yang melakukan pemujaan pada dewi ini akan mendapatkan perlindungan dari sang Dewi.

Arti namaSunting

Dalam bahasa Sanskertadurga berarti "yang tidak bisa dimasuki" atau "terpencil".

Lihat pulaSunting

Prasasti Calcutta

Prasasti Pucangan terdiri dari dua prasasti berbeda yang dipahat pada sebuah batu. 

Di sisi depan menggunakan bahasa Jawa Kuno dan di sisi belakang menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi kedua prasasti tersebut ditulis dalam aksara Kawi (Jawa Kuno) 

Prasasti ini berbentuk blok berpuncak runcing serta pada bagian alas prasasti berbentuk bunga teratai.

Penamaan prasasti ini berdasarkan kata "Pucangan" yang ditemukan pada prasasti tersebut yang menceritakan adanya perintah membangun pertapaan di Pucangan, sebuah tempat di sekitar Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

Prasasti ini ditemukan pada masa Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur pemerintahan kolonial Inggris di Batavia. Pada tahun 1812, Raffles menyerahkan prasasti itu kepada atasannya, Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto. 

Prasasti itu lalu disimpan dan menjadi bagian dari rumah keluarga Minto di Kolkata. 

Ketika keluarga Lord Minto pulang ke Hawick Skotlandia, prasasti ini tidak turut dibawa, melainkan disimpan di museum di Kolkata, India. 

Alih aksara dalam bahasa Sanskerta (Witasari, 2009) adalah sbb : 

  1. // svasti // tribhira piguna airu petonŗņa āvvidhānesthi tautathā pralaye aguņaiti yaħ prasiddhasta smaidhāthre namas satatam
  2. agaņi vikrama guruņā praņam yamānas surādhipe nasadã piyas trivikrama iti prathito loke namasta smai 
  1. Selamat! Hormat selalu baginya, yang diberkati dengan ketiga guna ketika takdir para manusia telah ditetapkan, hingga ketika kehancuran telah diatur, demikian bagi Pencipta tidak memiliki guna
  2. Hormat baginya, demikianlah triwikrama yang dikenal dunia oleh langkah yang besar tanpa perhitungan, juga selalu hormat oleh pikiran raja para dewa. 

Peter Brian Ramsey Carey, sejarawan asal Inggris, meminta Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan kepada Pemerintah India dan keluarga Lord Minto, untuk dapat memulangkan Prasasti Pucangan dan Prasasti Sanggurah. 

Sebab, Prasasti Pucangan dalam kondisi kurang terawat dan tergeletak terkena hujan dan panas di luar gudang Museum Kalkuta. Sedangkan Prasasti Sanggurah juga kurang terawat dalam taman keluarga Minto di Skotlandia. 

Namun, kepastian pengembalian kedua prasasti penting tersebut belum jelas hingga kini.