Tuesday, October 27, 2020

basofi sudirman


Wikipedia

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Moch. Basofi Sudirman (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 20 Desember 1940 – meninggal di Jakarta, 7 Agustus 2017 pada umur 76 tahun), adalah Gubernur Jawa Timur periode 1993-1998. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kasdam I/Bukit Barisan (1986-1987) dan Wakil Gubernur Jakarta tahun (1987-1992). Ia pernah berkarier sebagai penyanyi, dengan single Tidak Semua Laki-laki. Basofi Sudirman merupakan Putra dari Letjen TNI (Purn.) H. Soedirman yang merupakan tokoh terkenal di Bojonegoro, dan merupakan pahlawan nasional dari Kabupaten Bojonegoro.

Basofi Sudirman
Gubernur Jatim Basofi Sudirman.jpg
Sebagai Gubernur KDH Tk.I Provinsi Jatim, 1993-1998
Gubernur Jawa Timur 11
Masa jabatan
1993–1998
PresidenSoeharto
WakilHarwin Wasisto
PendahuluSoelarso
PenggantiImam Utomo
Wakil Gubernur DKI Jakarta
Bidang Pemerintahan
Masa jabatan
1987–1992
PresidenSoeharto
GubernurWiyogo Atmodarminto
PendahuluEddie Marzuki Nalapraya
PenggantiMohammad Idroes
Informasi pribadi
Lahir20 Desember 1940
Bendera Belanda Bojonegoro, Jawa Timur
Meninggal dunia7 Agustus 2017 (umur 76)
Bendera Indonesia Jakarta
Partai politikPartai Golongan Karya
Alma materAkademi Militer (1963)
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
Masa dinas1963–1987
PangkatPdu mayjendtni staf.png Mayor Jenderal TNI
SatuanInfanteri

Karier MiliterSunting

Basofi Sudirman[1] lahir di desa yang tidak begitu subur: Ngrawuh, Bojonegoro, dari pasangan ayah bernama Soedirman dan ibu Masrikah binti Syakur, 28 Desember 1940. Berkat pengaruh ayahnya, sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi tentara. "Bapak selalu mengajak saya melihat-lihat kegiatan militer seperti tentara latihan. Saya melihat kebesaran Bapak saya di dunia kemiliteran itu, sehingga otomatis di benak saya nggak ada yang lain kecuali ingin jadi tentara."

Sebagian cara hidup yang biasanya dialami tentara juga sudah sering dialaminya sejak kecil. Pada masa revolusi, Basofi kecil sudah sering harus ikut mengungsi. Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pun, ia masih harus berpindah-pindah karena tugas ayahnya selaku tentara menghendaki begitu.

"Tetapi sekolah tetap lancar," tukasnya. Sekolah Rakyat (SR) hingga SMA ia selesaikan di Surabaya. Lulus SMA pada tahun 1960, pemuda Basofi melanjutkan ke Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah, yang kemudian diselesaikannya pada tahun 1963. Setelah lulus AMN, karier militernya tergolong lancar, terutama setelah melalui berbagai pengalaman tempur. Pengalaman memimpin pasukan yang pernah dilaluinya adalah Komandan Detasemen Tempur Kopasandha (1971-1972), Komandan Batalyon 412 Brawijaya (1973-1974), Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Kostrad (1981-1983).

Selain itu Basofi juga punya pengalaman teritorial yang cukup. Misalnya, ia pernah menjadi Komandan Kodim 0824/Jember (1977-1978), Asisten Teritorial Kodam IV/Brawijaya (1983-1984), Komandan Korem 083/Baladhika Malang (1984-1986), dan Kasdam Kodam I/Bukit Barisan (1986-1987), sebelum akhirnya ditarik ke Mabes ABRI. Pengalaman lainnya adalah menjadi Dosen Seskoad, tahun 1979-1981. Ia sendiri mengikuti Seskoad pada tahun 1978, dan Seskogab tahun 1979.

Sebagai prajurit Basofi tergolong cepat pensiun. Lulusan Seskoad 1978 dan Seskogab 1979 ini pensiun pada usia 47 tahun, dengan pangkat Mayor Jenderal TNI. "Ya, karena masuk Golkar," begitu sebabanya. Ayahnya, Letjen TNI H. Soedirman, sebetulnya tak setuju. Tapi bagi Basofi sendiri, di Golkar dan di ABRI sama saja. "Cuma, Bapak saya yang protes," tambahnya.

Meskipun karier militernya kalah dibanding ayahnya—ayahnya bisa pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal TNI dan pernah menjabat Komandan Jenderal Seskoad—karier sipilnya tergolong bagus. Sebelum menjadi Gubernur Jawa Timur, jabatannya adalah Ketua DPD Golkar DKI Jakarta, dan pada tahun 1987 diangkat menjadi wakil gubernur DKI Jakarta Bidang pemerintahan. Itulah jabatan terakhirnya, sampai April 1993, sebelum menjadi Gubernur Jawa Timur.

Pranala luarSunting

ReferensiSunting

Jabatan politik
Didahului oleh:
Soelarso
Gubernur Jawa Timur
1993–1998
Diteruskan oleh:
Imam Utomo
Didahului oleh:
Eddie Marzuki Nalapraya
Bunyamin Ramto
Wakil Gubernur DKI Jakarta
1987–1992
Bersama dengan: Herbowo
Diteruskan oleh:
Mohammad Idroes
Tubagus Muhammad Rais
RS Museno

marah rusli


Wikipedia

Marah Roesli atau sering kali dieja Marah Rusli (lahir di Padang, Sumatra Barat, 7 Agustus 1889 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari 1968 pada umur 78 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka[1]. Keterkenalannya karena karyanya Siti Nurbaya (roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. Siti Nurbaya telah melegenda, wanita yang terpaksa kawin karena keadaan ekonomi orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya

Marah Roesli
Marah Rusli, Pekan Buku Indonesia 1954, p92.jpg
Marah Roesli, tahun 1954
Nama lahirMarah Roesli
Lahir7 Agustus 1889
Padang, Sumatra Barat
Meninggal17 Januari 1968 (umur 78)
Bandung, Jawa Barat
PekerjaanDokter hewan, Sastrawan
AnakRoeshan Roesli

RiwayatSunting

Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan Pagaruyung dengan gelar Sultan Pangeran, sedangkan ibunya berdarah Jawa, keturunan Sentot Alibasyah, seorang panglima perang Pangeran Diponegoro[2] yang ditugaskan oleh Belanda ke Minangkabau untuk menghadapi perang Padri, namun kemudian ia membelot dengan membantu perjuangan rakyat Minangkabau melawan kolonialis Belanda.

Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Buitenzorg (kini Bogor) pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.

Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatra Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal dunia pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

KiprahSunting

Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.

Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.

Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan.

Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia[3].

BibliografiSunting

Terjemahannya: Gadis yang Malang (novel Charles Dickens, 1922).

Catatan kakiSunting

  1. ^ "Marah Rusli". encyclopedia.jakarta-tourism.go.id. Diakses tanggal 2020-02-12.
  2. ^ "Seniman Sastra; Marah Rusli" Situs TIM. Diakses 18 September 2015.
  3. ^ Roesli, Marah. dlm: Погадаев, В. Малайский мир (Бруней, Индонезия, Малайзия, Сингапур). Лингвострановедческий словарь. М.:"Восточная книга", 2012, с. 553-554 [Pogadaev, V.A. Malay World (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapore). Lingua-Cultural Dictionary. Moscow: "Vostochnaya Kniga", 2012, p. 553-554]

TriviaSunting

Pranala luarSunting

asrul sani


Wikipedia

Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1927 – meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 76 tahun) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan penulis skenario film ternama asal Indonesia.[1]

Asrul Sani
Asrul Sani Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essai 1 (1962) p50.jpg
Asrul Sani muda, sekitar tahun 1955
Lahir10 Juni 1927
Bendera Hindia Belanda Rao, Sumatra Barat, Hindia Belanda
Meninggal11 Januari 2004 (umur 76)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Pekerjaansastrawan, sutradara, penulis skenario
PasanganMutiara Sani

Dalam blantika perfilman Indonesia, Asrul Sani telah berkiprah selama lebih kurang 67 tahun (1959-1992); menyutradarai beberapa film, serta meraih delapan penghargaan Piala Citra untuk penulisan skenario dan cerita asli.

Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah Republik Indonesia.

Latar BelakangSunting

Asrul Sani merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, merupakan kepala adat Minangkabau di daerahnya. Ibunya Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing.[2]

PendidikanSunting

Sani pada tahun 1954

Asrul Sani memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (sekolah dasar bentukan pemerintah kolonial Belanda) di Bukit Tinggi pada 1936. Lalu ia melanjutkan SMP di SMP Taman Siswa, Jakarta pada 1942. Setelah tamat, ia melanjutkan ke Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor. Akan tetapi, minatnya akan Sastra sempat mengalihkan perhatiannya dari kuliah kedokteran hewan sehingga Asrul sempat pindah ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan, dengan beasiswa Lembaga Kebudayaan Indonesia- Belanda, mengikuti pertukaran ke Akademi Seni Drama, Amsterdam pada 1952 walaupun akhirnya kembali melanjutkan kuliah kedokteran hewan hingga memperoleh gelar dokter hewan pada 1955. Pada masa kuliah itu juga Asrul sempat mengikuti seminar kebudayaan di Harvard University pada 1954. Setelah tamat kedokteran hewan, Asrul kembali mengejar hasratnya akan seni sastra dengan melanjutkan kuliah dramaturgi dan sinematografi di South California University, Los Angeles, Amerika Serikat (1956) dan kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).

Menurut Ajip Rosidi, ia dapat berbicara dalam Bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.[3]

KarierSunting

Asrul Sani saat menerima Piala Citra untuk Skenario Terbaik FFI 1982

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45.[4] Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.[5]

Selain itu, ia pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema Suasana (kemudian Gema), Gelanggang (1966-1967), dan pimpinan umum Citra Film (1981-1982).[6]

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz dimasukkan oleh Teeuw ke dalam Moderne Indonesische Verhalen dan dramanya Mahkamah mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Garapan pertamanya di bidang film adalah skenario Pegawai Tinggi (1953). Debut pertama penyutradaraan filmnya adalah Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959).[7] Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre dan Burung Camar karya Anton P., dua dari banyak karya yang lain. Skenario yang di tulisnya untuk Lewat Djam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), dan Kemelut Hidup (mendapat Piala Citra 1979) memasukkan namanya pada jajaran sineas hebat Indonesia.[8] Ia juga menyutradarai film Salah Asuhan (1972), Jembatan Merah (1973), Bulan di Atas Kuburan (1973), dan sederet judul film lainnya.[9] Salah satu film karya Asrul Sani yang kembali populer pada tahun 2000-an adalah Nagabonar yang dibuat sekuelnya, Nagabonar Jadi 2 oleh sineas kenamaan Deddy Mizwar.

Selain menulis puisi, cerpen, esai, naskah teater, dan skenario film, dia banyak menerjemahkan karya sastra mancanegara.

Sementara bergiat di film, pada masa-masa kalangan komunis aktif untuk menguasai bidang kebudayaan, Asrul, mendampingi Usmar Ismail, ikut menjadi arsitek lahirnya LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dalam tubuh partai politik Nahdhatul Ulama, yang mulai berdiri tahun 1962, untuk menghadapi aksi seluruh front kalangan "kiri". Usmar Ismail menjadi Ketua Umum, Asrul sebagai wakilnya. Pada saat itu ia juga menjadi Ketua Redaksi penerbitan LESBUMI, Abad Muslimin.

Memasuki Orde Baru, sejak tahun 1966 Asrul menjadi angota DPR mewakili NU, terpilih lagi pada periode 1971-1976 mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk provinsi Sumatra Barat kotamadya Solok.[10] Sementara itu sejak tahun 1968 terpilih sebagai anggota DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Pada tahun 1976-79 menjadi Ketua DKJ. Sejak tahun 1970 diangkat menjadi salah satu dari 10 anggota Akademi Jakarta. Pernah menjadi Rektor LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta), kini bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pernah beberapa kali duduk sebagai anggota Badan Sensor Film, tahun 1979 terpilih sebagai anggota dan Ketua Dewan Film Nasional, Sejak tahun 1995 menjadi anggota BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional).

KaryaSunting

SastraSunting

FilmSunting

Terjemahan[6]Sunting

PenghargaanSunting

Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) memenangkan Piala Citra pada tahun 1986, Piala Antemas dan Piala Bing Slamet. Naga Bonar (1986) memenangkan Piala Citra pada tahun 1987.[11]

Sani menerima Anugerah Seni pada tahun 1969 dan Medali Bintang Mahaputera pada tahun 2000 dari Pemerintah Indonesia.[12]

ReferensiSunting

Catatan kaki
  1. ^ Rampan, Korrie Layun (2000). Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. ^ Ismail, Taufiq (2008). Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit: Himpunan tulisan 1960-2008. Jakarta: Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia dan Majalah Sastra Horizon.
  3. ^ Rosidi 2010, hlm. 61
  4. ^ "Seniman Pelopor Angkatan '45". tokohindonesia.com. Diakses tanggal 11 Maret2012.
  5. ^ Rosidi 2010, hlm. 62
  6. ^ a b Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 979-9012-12-0 hlm. 94
  7. ^ Sinematek Indonesia & Badan Penelitian dan Pengembangan, Penerangan, Departemen Penerangan RI. (1979). Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. hlm. 65
  8. ^ Rosidi 2010, hlm. 63
  9. ^ Rosidi 2010, hlm. 63–64
  10. ^ "Daftar nama-nama tjalon jang terpilih untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam Pemilihan tahun 1971". Siaran Pemilihan Umum. Jakarta. 14 August 1971. hlm. 3.
  11. ^ Imanjaya 2006, hlm. 49
  12. ^ Rosidi 2010, hlm. 60
Bibliografi

Bacaan lebih lanjutSunting

  • M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967)
  • Ajip Rosidi dkk. (ed.), Asrul Sani 70 Tahun, Penghargaan dan Penghormatan (1997)

Pranala luarSunting

Sunday, October 18, 2020

pupuk

PUPUK ORGANIK CAIR (POC)

Hanya modal Rp35.000 sudah menghasilkan 50 liter Pupuk Organik Cair (POC) yang bisa engkau gunakan untuk koleksi wiku selama setahun. Tergantung jumlah koleksi.

POC inilah yang saya gunakan sejak 2017 sampai sekarang. Bukan hanya untuk wiku, tetapi juga tanaman lain yang saya tanam di metan, seperti tanaman buah.

Sejak menekuni wiku saya tidak pernah menggunakan pupuk anorganik (kimia). Jadi, jangan tanya tentang penggunaan NPK, fungisida, hormon, budbreaker, dan semacamnya.

SIAPKAN 4 BAHAN:

1) EM4 Pertanian 1 liter. Dapat engkau beli di toko-toko pertanian atau olshop. Harga berkisar dua puluh ribuan.

2) Gula Pasir 1 kg. Jangan cari di toko bangunan ya. Cukup ambil diam-diam di dapur. Jika ada tetes tebu, bisa juga sebagai ganti gula pasir. 

3) Daun pahitan atau kipahit (Tithonia diversifolia). Ada juga yang menggunakan bonggol pisang, rebung bambu, dll. Tetapi saya hanya menggunakan daun pahitan saja.

4) Air biasa 50 liter. Bagus juga engkau tambahkan air cucian beras atau air kelapa.

TAHAP PEMBUATAN

1) Larutkan dulu gula pasir 1 kg di air panas 1 liter. Sambil direbus juga boleh, agar cepat larut.

2) Cacah atau irislah daun pahitan, semakin kecil semakin bagus. Diblender juga boleh. 

3) Masukkan cacahan daun pahitan ke dalam tong besar yang muat air 50 liter. Perbandingan cacahan dan air adalah 1:2. Intinya cacahan bisa ditenggelamkan ke air.

4) Tuangkan EM4 dan larutan gula pasir ke dalam adonan poin 3.

5) Aduk-aduklah sampai sekitar 30 detik. Jika misalnya membuat hanya volume kecil di botol,  cukup dikocok atau dibolak-balik.

6) Tutup rapat, misalnya dengan plastik yang ditali dengan karet. Letakkan tong di area tanpa kena simat.

7) Aduklah adonan sehari dua kali, pagi dan sore, untuk mengeluarkan gas. Lalu tutup lagi dengan rapat. Lakukan selama 7-10 hari.

8) Pada 3-4 hari pertama cacahan daun masih mengambang. Pada hari ke-5 mulai tenggelam. Di hari ke-6 mulai muncul seperti buih putih di lapisan atas.

9) Selama seminggu POC sudah siap digunakan. Tetapi sebaiknya bersabar 3 hari lagi. 

10) Di hari ke-11, saringlah adonan dan simpan di botol-botol air mineral, jerigen, atau seadanya. Secara berkala, 1-2 hari sekali bukalah tutupnya untuk membuang gas yang tersisa.

11) Di hari ke-14 dan seterusnya tidak perlu lagi membuka tutup. Kecuali kangen aromanya, ya bolehlah cium-cium.

POC berhasil jika aromanya segar seperti tape. Ingat, tidak berbahaya sama sekali ya. Terminum juga tidak membahayakan.

POC gagal jika bau comberan. Tapi masih bisalah untuk kucur di metan tanaman buah. 

Eits, ampas sisa saringan jangan dibuang. Itu sangat bergizi untuk campuran metan. Bisa langsung atau dijemur dulu.

APLIKASI PADA TANAMAN

POC yang sudah tersaring dicampur dengan air biasa dengan perbandingan 1:3. Disemprotkan di daun epi pada malam hari. 

Untuk kocor ke metan sangat bagus ditambahkan air cucian beras, biasa disebut LERI. Perbandingan POC : Air biasa : Air Leri = 1:2:1.

"Air leri ini sangat bagus dan paling bergizi dari sekian pupuk yang ada," tutur tetangga saya yang master pertanian. Tentu ada konteks dan terapannya.

Oke, segini saja dulu. Nanti akan saya edit jika ada kekurangan atau masukan dari kawan-kawan. Ini hanya pengalaman pribadi saja. Saya tidak punya basic pendidikan pertanian.

Tuesday, October 6, 2020

hang heng hong

hang heng hong berita bohong,,,
kongkalikong sindikat kingkong...

Monday, October 5, 2020

lubang

Sisi Lain Lubang Buaya

Setiap tanggal 1 Oktober, rakyat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan itu dilaksanakan terkait tragedi pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi yang terjadi pada 30 September 1965. Ketujuh Pahlawan Revolusi itu dikuburkan dalam sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya sebelum akhirnya ditemukan satu hari kemudian oleh tim Tentara Nasional Indonesia. 

Lubang Buaya merupakan nama kelurahan di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur yang  berbatasan langsung dengan Kelurahan Halim Perdana Kusumah di sebelah utara, serta Kelurahan Pinang Ranti dan Kelurahan Bambu Apus di sebelah barat. Sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Jatirahayu Pondok Gede, Bekasi, dan Kelurahan Setu di sebelah selatannya.
Kawasan Lubang Buaya menjadi sangat terkenal sejak meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) yang didalangi oleh Partai Komunis Indonsia (PKI). Para korban keganasan PKI berjumlah 7 orang yang kemudian digelari Pahlawan Revolusi itu dibuang ke dalam sumur Lubang Buaya.
Lubang Buaya saat terjadinya G30S/PKI itu merupakan pusat pelatihan milik PKI.  Namun, tempat itu sekarang dikenal sebagai Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Selain monumen peringatan peristiwa G30S/PKI di tempat tersebut kini juga terdapat museum peristiwa kelam di masa Orde Lama itu.
Jauh hari sebelum terjadi peristiwa G30S, sebenarnya sumur yang dijadikan tempat pembuangan jenazah para pahlawan revolusi adalah sumur milik warga sekitar. Sumur milik Bambang Haryono itu dahulu merupakan sumber air warga Kampung Lubang Buaya.
Lalu bagaimana awalnya kawasan tersebut dinamakan Lubang Buaya? Benarkah dahulu kawasan tersebut didiami sekumpulan buaya putih seperti kata orang?
Menurut legenda yang beradar dari mulut ke mulut. Asal mula kawasan tersebut disebut Lubang Buaya tak dapat dilepaskan dari kisah salah satu sesepuh kampung Lubang Buaya pada masa lalu, Datuk Banjir.
Allkisah dahulu kala, Datuk Banjir bersama kedua temannya sedang melintasi kawasan yang kini disebut Lubang Buaya. Saat itu hujan deras. Datuk Banjir yang dikenal sakti mandraguna sedang melintasi kawasan itu sambil mengayuh getek atau rakit yang terbuat dari bambu. Tiba-tiba getek yang ditumpangi Datuk Banjir dan dua temannya berhenti.Kedua temannya ketakutan mereka akan bertemu dengan sekelompok buaya putih yang terkenal biasa mendiami rawa-rawa di sekitar itu.
Datuk Banjir penasaran. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk pun mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya. Datuk pun memutar arah agar geteknya bisa berjalan.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.
Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, terutama di bulan Oktober.
Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.
Mengenai benar atau tidaknya legenda tersebut. Wallahu’alam bisshawab.(Asep)