Tuesday, March 10, 2020

VIETNAM ROSE

Saat Perang Vietnam berkecamuk, dikabarkan berkecamuk pula 'penyakit kelamin' yang sulit disebumbuhkan yaitu 'Vietnam Rose' atau 'Black Pox

bangunan eks Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam 

Tragedi kemanusian di Camp Vietnam, Pulau Galang, Batam, juga masih meninggalkan cerita. Salah satu cerita yang miris adalah serangan penyakit mematikan yang dikenal dengan Vietnam Rose.

Itu pula yang membuat kamp para pengungsi asal Vietnam itu, terisolasi dari dunia luar. Orang Batam dilarang keras masuk ke lokasi tersebut. Sedangkan mereka yang keluar atau kabur dari pengungsian, bisa-bisa mati ditembak. 

Foto-foto para pengungsi Vietnam 

Jika dialihkan dalam bahasa Indonesia, tidak ada kesan mengerikan pada istilah Vietnam Rose. 

Pada masanya, aparat yang diterjunkan untuk mengawasi kamp, tak segan menembak dan memenjarakan pengungsi yang mencoba melarikan diri dari kawasan di pulau kecil itu.

Sepintas “Vietnam Rose” terdengar sebagai sebuah bunga mawar. Namun ternyata hal itu bukan spesies baru bunga mawar. 

Vietnam Rose ternyata sebutan untuk penyakit kelamin yang marak pada masa perang Vietnam. 

Indikasinya bercak-bercak merah pada alat kelamin. Disebabkan kuman sifilis atau treponema pallidum, penyakit ini memiliki gejala yang relatif sama. Untuk menangkalnya, pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik. 

Namun pada Vietnam Rose, kuman tersebut bermutasi menjadi strain baru yang kebal terhadap antibiotik dengan dosis tertentu. Hasilnya lebih ganas menyerang.

Mutasi kuman ini membuat Vietnam Rose menjadi penyakit paling menjijikan pada masa itu. Tak heran, pengungsi Vietnam yang berakhir di Galang, dilarang keras keluar dari kamp agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit tersebut.

AMSUS (Association of Military Surgeons of the U.S.) pasca perang Vietnam bahkan sampai membuat kajian khusus yang dilaporkan kepada kongres untuk membentuk program perawatan khusus bagi veteran yang terjangkit penyakit ini.

Ada sekitar 250 ribu pengungsi yang ditempatkan di Pulau Galang tersebut. Mereka mengungsi dari Vietnam ketika pecah perang saudara di negara komunis tersebut. 

Ribuan warga Vietnam memilih mengungsi dengan perahu kayu karena perang. Tidak jarang diantara mereka tewas di tengah lautan. 

Berbulan-bulan mereka terombang-ambing di laut tanpa arah dan tujuan sebelum terdampar di Pulau Galang. Begitu tiba di darat, mereka lantas membakar perahu-perahu yang mereka tumpangi karena takut dipulangkan kembali ke negaranya.

Di Pulau Galang, mereka diurus Komisi Tinggi Pengungsian PBB (United Nation High Commission for Refugee/UNHCR) 

Sejak tahun 1997, diantara mereka sudah banyak yang berada di negara ketiga dan kembali ke Vietnam. 

Dalam beberapa tahun sekali, mereka kembali ke Pulau Galang, mengenang peristiwa menyakitkan tersebut. 

Saturday, March 7, 2020

oey


Wikipedia

Oey Tamba Sia

Playboy Jakarta

Oey Tamba Sia (lahir 1827 - meninggal 7 Oktober 1856), kadang disebut Oeij Tambah Sia, atau sering keliru dijuluki Oey Tambahsia, adalah seorang playboy kaya raya yang dihukum gantung pemerintah Hindia Belanda karena berperan dalam beberapa kasus pembunuhan di Batavia.[1][2][3] Kisah hidupnya melegenda di kalangan masyarakat Jakarta dan menjadi basis beberapa pantun, karya sastra dan cerita rakyat.

Oey Tamba Sia
Oey Tamba Sia.png
Klise Oey Tamba Sia di majalah Perancis L'Illustration (1857), berdasarkan gambar oleh M. G. de Coudray
Lahir1827
PekalonganJawa TengahHindia Belanda
Meninggal1856 (berusia 28–29)
BataviaHindia Belanda
Sebab meninggalEksekusi dengan digantung
PekerjaanPlayboy
Suami/istriSim Hong Nio
Pasangan serumahMas Ajoe Goendjing
Liesie
Liem Ing Nio
Orang tuaLetnan Oey Thai Lo (father)
KerabatOey Makau Sia (saudara)
Kapitein Oey Giok Koen (keponakan)
Oey Tamba Sia

BiografiSunting

Tjoa Boan Soeij, Oeij Tambah Sia (edisi pertama, volume kedua)

Ia lahir pada tahun 1827 di Batavia, dan adalah putra taipan serta raja tembakau asal PekalonganOey Thai Lo, gelar Oey Thoa, yang juga menjabat sebagai Letnan Cina di Kongsi Besar. Sebagai putra seorang Opsir Tionghoa, Oey Tamba menyandang gelar Sia. Pada saat baru berusia 15 tahun, ia kehilangan ayahnya, Letnan Oey Thai Lo, yang tutup usia dan menghibahkan kekayaan yang konon berjumlah 2 juta gulden kepada anak-anaknya.

Menurut cerita rakyat, Oey Tamba Sia walaupun tampan dan perlente adalah pemuda sombong dan gemar berganti-ganti pasangan. Sikap ini memburuk ketika ia menerima warisan besar setelah wafatnya sang ayah. Ia tidak menghormati pembesar-pembesar Tionghoa di Batavia karena banyak yang disokong dana oleh mendiang ayahnya, termasuk sahabat almarhum ayahnya Mayor Cina Tan Eng Goan. Walaupun demikian, Mayor Tan Eng Goan dan para pejabat lainnya berusaha memberikan nasihat kepada Oey Tamba Sia agar bertobat. Bahkan sang Mayor menawarkan Oey Tamba Sia jabatan Letnan Cina yang diemban ayahnya. Namun Oey Tamba Sia menolah baik nasihat maupun jabatan dari para petinggi Tionghoa tersebut.

Tingkah-laku Oey Tamba Sia berakhir pada tindakan kriminal di mana ia memerintahkan pembunuhan Sutedjo, saudara gundiknya Mas Adjeng Gundjing yang ia kira adalah kekasihnya. Oey Tamba Sia bahkan meracuni pembantunya sendiri yang setia Tjeng Kie hanya untuk memfitnah musuh bebuyutannya Lim Soe Keng Sia, anak mantu Mayor Tan Eng Goan. Dewan Tionghoa yang dipimpin Mayor Tionghoa menyelidiki tindakan Oey Tamba Sia tersebut, dan melaporkannya kepada pengadilan Landraad. Oey Tamba Sia dijatuhkan hukuman gantung sampai mati di muka umum. Usaha keluarga Oey untuk naik banding ke Raad van Justitie dan permohonan grasi kepada Gubernur Jendral ditolak.

Saat fajar tanggal 7 Oktober 1856, Oey Tamba Sia dihukum gantung sampai mati di lapangan Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta).

SastraSunting

Pada tahun 1903, Thio Tjin Boen menerbitkan Tambahsia: Soewatoe tjerita jang betoel soedah kedjadian di Betawi antara tahoen 1851-1956, karyanya yang berdasarkan riwayat Oey Tamba Sia.[4] Tidak lama kemudian, pada tahun 1906, diterbitkan cerita anonim tentang Oey Tamba Sia yang dikisahkan oleh penulis Tjoa Ban Soeij dalam bentuk syair setebal 129 halaman, yaitu Sair swatoe tjeritajang betoel soeda kedjadian di Tanah Betawi dari halnja Oeij Tambah Sia, tatkalah Sri Padoeka toean besar Duymaer van Twist mendjabat Gouverneur General koetika tahoen 1851Tambah Sia, karya Boan Soeij Tjoa, terbit pada tahun 1922 juga menceritakan kisah hidup Oey Tamba Sia.

RujukanSunting

sultan

"Saya sudah menjadi Republikein sekarang, tapi kalau kamu mau injak-injak keraton saya, langkahi dulu mayat saya." kata Sultan Jogja Hamengkubuwono IX dengan bahasa Belanda

Kolonel Dirk Reinhard Adelbert van Langen (Komandan Tiger Brigade) begitu terkejut dengan ketegasan Sri Sultan HB IX. Ia sendiri mengetahui bahwa Sultan adalah teman dekat Ratu Belanda. Dia langsung menjawab, "Bukan begitu Paduka, saya hanya mau cari ekstrimis".

Dialog tersebut sangat terkenal karena dikutip dalam berbagai buku sejarah. Saat itu Van Langen mencoba akan memasuki dan menggeledah keraton Ngayogyakarta Hadininigrat sebelum pecah Serangan Umum 1 Maret 1949.Tindakan ini diambil karena beberapa malam sebelumnya banyak pejuang Republik yang melancarkan serangan pada malam hari, sehingga dicurigai diperintah oleh Sri Sultan HB IX sekaligus bersembunyi di keraton.

Van Langen sangat takjub dengan ketegasan Sri Sultan HB IX, seorang pria tamatan Universitas Leiden Belanda yang menempuh pendidikan di sekolah yang sama dengan anggota keluarga Kerajaan Oranye. Saat itu juga sang kolonel mengurungkan niatnya untuk memasuki keraton, dan selamatlah para pejuang Republik yang kala itu banyak bersembunyi disana dengan menyamar sebagai abdi dalem Sultan.

Sumber: @sejarahbelajar

Friday, March 6, 2020

pesisir

12 JALUR DESTINASI WISATA PESISIR JAKARTA UTARA : 
1. Taman suaka margasatwa muara angke
2. Sentra perikanan muara angke
3. Kawasan SUNDA KELAPA (Pelabuhan SUNDA KELAPA, Museum BAHARI, Menara syahbandar, Galangan VOC)
4. Kampung Luar Batang
5. Sentra belanja grosir PASAR PAGI mangga dua 
6. Taman impian jaya ancol (sekarang ANCOL BAY CITY)
7. Bahtera ancol
8. Stasiun TANJUNG PRIOK 
9. Jakarta Islamic Centre
10. Kampung TUGU (Gereja TUGU) 
11. Kampung MARUNDA (Masjid Al-Alam dan Rumah si Pitung)
12. Sentra belanja dan pusat kuliner KELAPA GADING

Thursday, March 5, 2020

Snouck Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje adalah seorang sarjana Belanda, Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda. 

Dutch scholar Snouck Hurgronje.







Lahir di Oosterhout, tahun 1857. ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden, tahun 1874. Ia menerima gelar Doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya 'Het Mekkaansche feest' (Perayaan Mekah) 
Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881. 

Snouck yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah, menjalani pemeriksaan oleh delegasi ulama dari Mekkah pada tahun 1884 sebelum masuk. Setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan, diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci Mekkah pada 1885. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya.

Sebagai wisatawan perintis, ia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah, sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk islam. Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim, seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold, pada 18 Februari 1886, yang kini diarsipkan di Perpustakaan universitas Heidelberg. 

Pada tahun 1889, ia menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden dan penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi islam di Hindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.

Sebagai penasehat JB van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir perang Aceh. Ia menggunakan pengetahuannya tentang budaya islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka dan mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50000 dan 100000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.

Kesuksesannya dalam perang Aceh, memberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906, melanjutkan karier akademis yang sukses. 

Ketika koloni Hindia Belanda didirikan pada tahun 1800, agama monoteistik dominan bagi sebagian besar masyarakat adat di Nusantara yang adalah islam. Karena sinkretisme agama yang kuat, bentuk islam dicampur dengan unsur-unsur dari agama yang lebih tua. Pedagang Arab dan peziarah haji yang kembali dari Mekkah, banyak dinyatakan interpretasi islam yang lebih ortodoks. Hal ini menyebabkan munculnya varian ketat dari islam dengan sebutan 'santri' dengan muslim yang lainnya disebut "abangan"

Masjid di Hindia Belanda

Kebanyakan gereja-gereja Kristen, berpegang pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Protestan dan Katolik menunjukkan interpretasi dalam mengikuti strategi pemerintah, tetapi tetap menikmati otonomi yang cukup. Selain itu kolonialisme Belanda tidak pernah didasarkan pada kefanatikan agama. Namun, selama abad ke 19, misionaris Kristen menjadi semakin aktif. secara teratur mengarah ke gesekan antara Kristen dan Islam dan antara denominasi Kristen yang berbeda. 

Hubungan antara pemerintah dan Islam dalam keadaan tidak nyaman. Kekuatan kolonial Belanda menggunakan prinsip pemisahan gereja dan negara dan ingin tetap netral dalam urusan agama. Namun yang sama pentingnya adalah keinginan untuk menjaga perdamaian dan ketertiban yang mana islam adalah sumber awal inspirasi untuk memberontak melawan pemerintahan kolonial. Motif sosial dan politik terkait dengan keinginan agama berulang kali meledak menjadi kerusuhan dan perang, seperti perang Padri dan perang Aceh. 

Peziarah dari Aceh dalam perjalanan ke Mekah. Gambar diambil oleh 'Snouck Hurgronje' di Konsulat Belanda di Jeddah, 1884.

Pada 1871, Gubernur Jenderal kolonial, mengandalkan sebuah penasihat untuk urusan adat, untuk mengelola ketegangan ini. Karena keahliannya dalam bahasa Arab dan Islam, Snouck Hurgronje bertugas dalam kapasitas ini, antara 1889-1905. 

Nasihatnya adalah untuk campur tangan sesedikit mungkin dalam urusan agama dan memungkinkan kebebasan optimal terhadap agama. Hanya manifestasi politik islam itu yang harus dilawan. Oleh sebab ia berpandangan bahwa musuh kolonialisme ketika itu bukanlah islam sebagai agama, tapi islam sebagai doktrin politik. Dalam soal ini, Snouck juga membagi Islam dalam 3 aspek : ibadah, sosial-masyarakat dan politik. 

Netralitas menurutnya hanya berlaku pada aspek satu dan dua. Tapi aspek ketiga dia anggap berbahaya, apalagi jika hanya terkait pada paham Pan Islamisme yang menurutnya harus dilibas sejak dini. 

Meskipun sarannya dilaksanakan dan dipandu kebijakan kolonial pada tahun-tahun mendatang, munculnya Sarekat Islam pada tahun 1912, menjadi kemunculan partai politik Hindia pertama yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam. 

Bercita-cita untuk mereformasi kebijakan kolonial Belanda, Snouck pindah ke Hindia Belanda pada tahun 1889. Snouck awalnya ditunjuk sebagai peneliti pendidikan islam di Buitenzorg dan profesor bahasa Arab di Batavia pada tahun 1890. Meskipun pada awalnya ia tidak diizinkan untuk mengunjungi Aceh, ia menolak tawaran untuk kembali ke Eropa dari Universitas Leiden dan Universitas Cambridge. 

Pada tahun 1890, ia menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi Ciamis. Karena kontroversi ini disebabkan di Belanda, Snouck menyebut pernikahan ini sebagai "kesempatan ilmiah" untuk mempelajari dan menganalisis upacara pernikahan islam. Empat anak lahir dari pernikahan ini.

Antara 1891-1892, Snouck yang saat itu telah fasih berbahasa Aceh, Melayu dan Jawa, akhirnya pergi ke Aceh yang hancur oleh Perang Aceh yang berkepanjangan. Dia masih terus berkorespondensi dengan ulama-ulama Serambi Mekkah. 

Jabatan rektornya dilepas pada pertengahan Oktober 1887. Proposal penelitian kepada Gubernur Jenderal, segera diajukan pada 9 Februari 1888. Niatnya didukung penuh oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP) juga Menteri Urusan Negeri Jajahan. Proposal pun berjalan tanpa penghalang. 

Di bawah nama "Haji Abdul Ghaffar" ia membangun sebuah hubungan kepercayaan dengan unsur agama penduduk di wilayah ini. Dalam laporan tentang situasi agama-politik di Aceh, Snouck sangat menentang penggunaan taktik teror militer terhadap rakyat Aceh dan sebaliknya menganjurkan spionase terorganisir sistematis dan memenangkan dukungan dari elit aristokrat. Namun ia melakukan dengan mengidentifikasi sarjana radikal Muslim (Ulama) yang akan menyerah dengan menunjukkan kekuatan. 

Selama tujuh bulan, Snouck berada di Aceh. sejak 8 Juli 1891, dia dibantu beberapa orang pelayannya. Baru pada 23 Mei 1892, Snouck mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasihat strategi kemiliteran Snouck. 

Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. 

Dalam Atjeh Verslag lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.

Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkhotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh, Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.

Pada tahun 1898, Snouck menjadi penasihat terdekat Kolonel Van Heutsz dalam "menenangkan" Aceh dan nasihatnya berperan dalam membalikkan keberuntungan Belanda dalam mengakhiri Perang Aceh yang berlarut-larut. 

Hubungan antara Heutsz dan Snouck memburuk ketika Heutsz terbukti tidak mau menerapkan ide Snouck. 

Pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa membalikan metode dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukan secara bersenjata. Ini menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk. Pada tahun yang sama, Snouck menikahi wanita pribumi lain dan memiliki seorang putra pada tahun 1905. Kecewa dengan kebijakan kolonial, ia kembali ke Belanda untuk melanjutkan karier akademis yang sukses. 

Makam Snouck Hurgronje di Leiden

Kembali ke Belanda, Snouck diterima beberapa profesor di Universitas Leiden, termasuk bahasa Arab, bahasa Aceh dan pendidikan Islam. Dia terus menghasilkan banyak studi akademis yang rumit dan menjadi otoritas internasional pada semua hal yang berkaitan dengan dunia Arab dan agama Islam. 

Saran ahli tentang isu-isu mendesak sering dicari oleh negara-negara Eropa lainnya, dan banyak karyanya sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman, Prancis dan Inggris. 

Pada tahun 1927, ia mengundurkan diri sebagai Rektor magnificus dan profesor, tetapi tetap aktif sebagai penasihat hingga kematiannya di Leiden pada 1936. 

Selama dan setelah masa akademisnya, Snouck tetap menjadi penasihat kolonial progresif dan kritikus. Visi reformis untuk memecahkan tantangan hubungan abadi antara Belanda dan Hindia, didasarkan pada prinsip asosiasi. Untuk mencapai hubungan masa depan ini dan mengakhiri pemerintahan dualis Hindia Belanda, ia menganjurkan otonomi peningkatan melalui pendidikan Barat. 

Pada tahun 1923, ia menyerukan "reformasi kuat dari konstitusi Hindia Belanda" dimana kita harus istirahat dengan konsep inferioritas moral dan intelektual pribumi dan memungkinkan mereka demokratis yang bebas dan representatif dan otonomi optimal. 

Unsur-unsur konservatif di Belanda bereaksi dengan membiayai sebuah sekolah alternatif bagi Pegawai Negeri Sipil di Colonial Utrecht. 

Snouck menikah 4 kali. Yang pertama dengan seorang wanita di Jeddah. Pada tahun 1890, ia menikah dengan Sangkana, puteri Raden Haji Mohammad Ta'ib, penghulu Ciamis, dan dikaruniai 4 orang anak. Sayang, pada tahun 1896, saat mengandung anak ke 5, Sangkana keguguran dan meninggal bersama bayi yang dikandungnya. 

Tak sampai 2 tahun kemudian, Snouck menikah lagi. Kali ini dengan Siti Sadiah, puteri Raden Haji Muhammad Soe'eb, "plaatsvervanger-penghulu" (penghulu pengganti) di Bandung. Dari pernikahan itu, mereka dikarunai seorang anak bernama Raden Joesoef, yang tak pernah bertemu lagi dengan Hurgronje karena Hugronje dipanggil pulang ke Belanda pada 1906. 

Raden Joesoef sendiri memiliki 11 orang anak. Yang paling sulung adalah Eddy Joesoef, pemain bulu tangkis yang pada tahun 1958, berhasil merebut Piala Thomas di Singapura. 

Pada 1910 di Belanda, Snouck kawin dengan Ida Maria, putri seorang pensiunan pendeta di Zutphan, Dr AJ Gort. 

Setelah dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Leiden pada 1907 (tiga tahun setelah menikah) ia menekuni profesi sebagai penasihat Menteri Urusan Koloni. Pekerjaan ini diemban hingga akhir hayatnya, 16 Juli 1936. 

Snouck Hurgronje Home yang diwariskan ke Universitas Leiden 

Data utama pada studi Snouck Hurgonje dan kebijakan kolonial yang berkaitan dengan islam, tersedia di arsip 'Departemen Koloni' dikelola oleh 'Arsip Nasional' di Den Haag. Arsip mencakup semua keputusan oleh gubernur jenderal, semua laporan surat Menteri Koloni dan semua hukum dan peraturan pemerintah. Selain itu, data yang tersedia di Arsip Nasional Indonesia di Jakarta dan di 'Royal Institute of Southeast Asian Studies dan Karibia' (KITLV) di Leiden dan Perpustakaan Universitas Leiden. 

The Leiden University Fund (Leids Universiteits Fonds) didedikasikan untuk reformasi universitas yang terletak di 'Snouck Hurgronjehuis' dimana rumah Snouck disumbangkan ke Universitas. 

MARSOSE


Pasukan Marsose adalah pasukan elit bentukan Belanda yang pada mulanya di ciptakan untuk menghancurkan perlawanan gerilyawan di Kesultanan Aceh. 
Orang Jawa menyebut pasukan ini dengan sebuatan Londo Ireng (Belanda Hitam)

Menurut Henk Schulte Nordholt (2002, hlm 6) sekurang-kurangnya 17000 orang Aceh atau 15% dari penduduk Aceh kala itu terbunuh oleh pasukan marsose ketika Belanda menginvasi Aceh. Yang menarik, pencetus atau pencipta pasukan marsose adalah Muhamad Syarif, pribumi pulau Sumatra berdarah Minang. 

Terbentuknya pasukan atau korps marsose betul-betul dilatar belakangi oleh pristiwa invasi Belanda ke Kesultanan Aceh. Pemerintah penjajah Belanda merasa khawatir, suatu kekuatan asing dari negara penjajah lain akan mendahului Belanda merebut kekuasaan atas Kesultanan Aceh.

Pemerintah Belanda menganggap penting untuk memfokuskan pada pencegahan terjadinya segala kemungkinan darurat, karena apabila Aceh dikuasai oleh penjajah lain, jelas akan menggangu kedudukan Belanda di Pulau Sumatra dan Selat Malaka.

Langkah awal Belanda dalam menginvasi Aceh adalah membuat perjanjian baru dengan Inggris, yaitu Perjanjian Sumatra atau Traktat Sumatra. Dalam perjanjian ini Inggris lepas tangan apabila Belanda menginvasi Kesultanan Aceh (Vlekke, 1959 hlm 33)

Bermodalkan Traktat Sumatra, penjajah Belanda mulai menekan Kesultanan Aceh supaya tunduk. Tindakan Belanda yang demikian itu tentu saja ditentang keras oleh Kesultanan Aceh. Menghadapi keadaan ini, Kesultanan Aceh mulai mencari bantuan keluar negeri. Sebaliknya, Belanda segera mengambil tindakan dengan mempercepat maklumat perang pada tanggal 1 April Tahun 1873, selanjutnya Belanda mengirimkan armada perang ke Aceh di bawah pimpinan Jendral Kholer (Said, 1985, hlm 758)

Selepas dibombardir Belanda, Istana Kesultanan Aceh dapat dikuasai Belanda pada tanggal 31 Januari 1874, yang ditandai dengan diambil alihnya kedudukan Sultan Aceh oleh Van Swieten. Akan tetapi, dengan jatuhnya Istana Kesultanan ke tangan Belanda, tidaklah mengakibatkan Kesultanan Aceh mau menyerah.
Sultan dan para pimpinan, mengungsi ke daerah Lueng Bata dan mendirikan kubu pertahanan baru sambil terus melakukan perlawan. Sedangkan di luar Aceh Besar, kenegerian keulebalang banyak yang masih melancarkan perlawanan terhadap Belanda. 

Ketika banyak tokoh pimpinan Aceh yang gugur dan menyerah, termasuk menyerahnya Sultan Aceh terakhir pada Belanda, komando pimpinan perlawanan diambil alih oleh para ulama dengan mengobarkan semangat perang sabil (jihad fi sabilillah
Maka rakyat Aceh mulai melancarkan perang gerilya menyerang benteng atau kubu-kubu pertahan tentara Belanda.

Bagi Belanda, perang besar merebut istana dan kota-kota di Aceh amatlah mudah, karena lawan yang dihadapi jelas dan terukur, akan tetapi melawan pasukan gerilya yang dilancarkan rakyat Aceh amatlah sulit, hal  itulah yang mengilhami Muhamad Syarif untuk membentuk pasukan Marsose.

Muhamad Syarif yang kala itu menjabat sebagai Jaksa Kepala di Kutaraja (Banda Aceh) mempunyai ide mengagumkan. pasukan gerilya harus di lawan dengan pasukan berkemampuan gerilya pula. pasukan yang khusus menguasai senjata tradisional seperti klewang, Rencong, pandai berduel dan tentunya pandai pula bermain senjata api, serta mampu hidup di hutan dengan perbekalan minim. 
Ide Muhamad Syarif itu kemudian disampaikan kepada Kepala Gubenur Militer Aceh saat itu, Jenderal Van Teijn, dan kepada Kepala Stafnya, Kapten J.B. Van Heutsz. 
ide tersebut kemudian di terima dan untuk selanjutnya Belanda membentuk pasukan khusus yang dinamai “Marsose” (Zentgraaff, 1983, hlm 469)

Pasukan Marsose direkrut dari orang-orang bumiputra atau inlander, terutama dari Ambon dan Manado, ada juga orang Jawa, Madura, Bugis dan suku-suku lainnya. Mereka yang direkrut harus mempunyai keberanian individual yang sama seperti orang Eropa dan disamping itu mereka juga harus menguasai keterampilan yang mutlak diperlukan dalam perang kontra gerilya. Mereka mampu melacak jejak, sanggup hidup sementara waktu di rimba Sumatra dengan makan hasil hutan dan memiliki bakat mahir menentukan arah mata angin (Veer, 1985, hlm 143)

Pasukan khusus marsose resmi dibentuk pada 2 April 1890, dengan surat keputusan pemerintah Hindia-Belanda. Namun demikian, korps tersebut baru betul-betul terwujud beberapa bulan kemudian dan baru pada Desember 1895 betul-betul menjadi pasukan para-komando. Komandan pertamanya ialah Kapten G.W.J. Graafland (Djamhari, 2004, hlm 86)

Selanjtnya, pasukan marsose gagasan Muhamad Syarif itu akhirnya benar-benar berjalan efektif, para pejuang Aceh dibuat menderita oleh pasukan ini, bahkan rakyat Aceh yang tidak ikut berjuangpun menjadi sasaran kebengisan pasukan marsose. Berangsur-angsur perjuangan gerilya rakyat Aceh berkurang, bahkan hampir tidak ada, kecuali hanya kelompok perlawanan kecil saja. 
Dari mulai di bentuk hingga penghancuran benteng terakhir para gerilyawan Aceh, setidak-tidaknya terdapat dua serangan pasukan masrose yang dianggap paling sukses sekaligus mematikan perjuangan gerilyawan Aceh.

Serangan yang paling mematikan pertama terjadi pada 28 Juni 1896. dalam serangan ini pasukan marsose melancarkan serangan mendadak pada benteng Aneuk Galong di Aceh Besar, dalam serangan ini, benteng dan penghuninya dihabisi pasukan marsose, mereka dibantai tanpa ampun.
Pasukan Marsose berfoto di depan tumpukan mayat pejuang dari pedalaman Gayo

Sementara serangan yang paling mematikan ke dua, terjadi pada tahun 1904. dalam serangan ini pasukan marsose yang dipimpin Letkol G.C.E. Van Daalen, melakukan ekspedisi di pedalaman Aceh untuk menguasai daerah Gayo dan Alas. 
Pasukan marsose bergerak dari arah utara menuju tanah Gayo.

Dalam menghadapi perlawanan rakyat Gayo, Van Daalen memerintahkan membakar lubang-lubang perlindungan, membakar rumah-rumah di dalam benteng, sehingga banyak pejuang-pejuang Gayo mati terpanggang di dalam tempat persembunyiannya. 
Setelah dapat menundukkan daerah Gayo, pasukan marsose menuju ke daerah Alas. Benteng Lengat Baru akhirnya dapat direbut. maka secara militer, seluruh tanah Alas telah jatuh ke tangan Belanda. 
Dalam melakukan ekspedisi ke Gayo dan Alas, pasukan marsose telah melakukan kekejaman dan teror yang menyebabkan ratusan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak terbunuh. 

Wednesday, March 4, 2020

MiChat aplikasi 18+

Berbagai aplikasi sosial media telah biasa kita jumpai di smartphone masa kini, salah satunya adalah aplikasi berbalas pesan atau chatting. 
Sebelum masuk ke pembahasan, kami peringatkan bahwa artikel ini ditujukan kepada orang dewasa. 
bahasa yang digunakan juga bersifat dewasa. tujuan artikel ini, hanya untuk memberikan info kepada teman-teman semua yang ingin mengetahui dunia kelam dari aplikasi MiChat. 

MiChat memiliki beberapa masalah yang berbahaya jika tidak digunakan dengan bijak, apalagi aplikasi ini bisa diunduh serta diakses anak-anak dibawah umur. maka pentingnya untuk orang tua segera mengaktifkan aplikasi parental control di smartphone anak. Dan aplikasi ini menciptakan lahirnya prostitusi online yang sedang marak terjadi di Indonesia yang mana banyaknya wanita-wanita menjajakan diri di dalam aplikasi tersebut. 

Kenyataan Dunia Kelam Aplikasi MiChat Yang Kontroversial

daftar kode-kode singkatan yang sering digunakan dalam prostitusi online : 

  • BO: Booking Out
  • ST: Short Time
  • LT: Long Time
  • VCS: Video Call Sex
  • Nego: Tawaran 
Bagaimana menurut anda? 
cukup memprihatinkan bukan? 
maka dari itu, mulailah peduli dan selalu jaga anggota keluarga kita agar dijauhi dengan hal-hal diatas. Terutama untuk para orang tua agar selalu menjaga anak-anaknya yang masih dibawah umur supaya selalu memikirkan secara bijak saat memberi smartphone kepada anak-anak. 
Dan untuk kalian yang sudah berpasangan, mulai sekarang jagalah baik-baik pasangan anda supaya tidak salah dan menyimpang saat menggunakan sosial media atau aplikasi chatting serupa.